Permenkeu Matikan Industri Rokok Kecil

Permenkeu Matikan Industri Rokok Kecil

Industri rokok kecil diprediksi bakal banyak  yang gulung tikar alias tutup. Ini menyusul mulai diberlakukannya Peraturan Menterui Keuangan (Permenkeu) No 200 tahun 2001. Peraturan ini mengatur tentang lahan industri rokok. Disebutkan di sana, bila lahan yang dimiliki tak sampai 200 meter persegi maka industry tersebut harus tutup.

Kepala Dinas Perinstrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Budi Setiawan menyayangkan keadaan ini. Apalagi, yang menjadi korban para  industri kecil.

Menurut Budi sebenarnya Pemprov Jawa Timur sudah tetapi tidak dihiraukan. Imbas lain dari peraturan ini adalah kalangan petani. Mereka yang selama ini menanam tembakau dipastikan akan beralih ke tanaman lain karena tutupnya industri rokok kecil.

Setelah protesnya tidak ditanggapi , Pemprov Jatim menggandeng para pengusaha dan para pekerja rokok yang menganggur untuk melakukan pelatihan. Harapannya, lewat pelatihan ini mereka bisa beralih ke industri lain.

Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto beberapa waktu yang lalu mengatakan aturan Permenkeu 200/2011 mendorong industri rokok kecil menuju kebangkrutan. Dengan anturan tersebut menurut data tahun lalu dari 147 pabrik rokok kecil yang ada  hampir separonya mati suri. Mereka hanya berproduksi jika ada pesanan saja, kalau tidak ada pesanan libur.

Di sisi lain, aturan ini justru memberi angin industri besar. Industri rokok besar mulai mengambilalih di pasar indsutri rokok kecil. Industri rokok besar mulai membuat anak-anak perusahaan yang memproduksi rokok yang diedarkan untuk kalangan menengah ke bawah.

Dengan langkah agresif itu, industri rokok besar diakuinya telah mengambil pangsa pasar industri rokok kecil selama 2 tahun terakhir. Langkah agresif itu juga telah menjadikan pangsa pasar rokok dikuasai industri rokok besar yang jumlahnya hanya 10 persen.(ram)