Perlunya Pembekalan Literasi Digital

Perlunya Pembekalan Literasi Digital

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya. foto:arya wiraraja/enciety.co

Di zaman digital ini, banyak orang yang tidak dapat lepas dari layanan internet. Dalam sehari, diperkirakan ada 150 juta orang Indonesia yang mengakses internet. Sekitar 60 persen dari angka tersebut adalah mereka yang mengakses internet dengan waktu 2-4 jam sehari. Yang lebih ekstrim lagi, beberapa di antaranya dapat mengakses internet sebanyak 120 kali dalam setiap hari.

“Merajuk pada angka-angka tersebut, masyarakat perlu dibekali dengan literasi digital . Dengan pengetahuan tersebut masyarakat bisa lebih bijak memanfaatkan kemajuan informasi dan teknologi di era digital,” kata Chairperson Enciety Business Consul Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (26/1/2018).

Menurut dia, banyak manfaat yang hadir seiring dengan perkembangan dunia digital. Namun juga banyak efek negatif yang ditimbulkan dengan perkembangan tersebut. Untuk itu, literasi digital sangat dibutuhkan buat masyarakat.

“Karena dengan lebih memahami perkembangan informasi dan teknologi masyarakat tidak akan terjebak oleh berbagai macam penipuan yang ada di dunia digital,” jelasnya.

Kata Kresnayana, azas keterbukaan informasi memang sangat dibutuhkan di era digital. Lembaga penyedia jasa dan produk di dunia digital wajib menyertakan bukti-bukti kompetensi lembaganya. Hal itu dibutuhkan tidak lain agar masyarakat dapat lebih percaya dan terhindar dari kejahatan dunia digital (cyber crime).

“Berbagai macam penipuan yang terjadi di dunia digital sekarang, di antaranya, investasi bodong, penipuan traveling dan penipuan lain kini jumlahnya sangat meningkat. Banyaknya penipuan via digital ini marak dikarenakan bank data dan informasi dunia digital di Indonesia masih belum terintegrasi secara maksimal,” ujar pakar statistik ITS itu.

Untuk menangkal hal tersebut, imbuh dia, saat ini banyak lembaga penyedia jasa dan produk di dunia digital telah mengembangkan sistem security. Di antaranya adalah PIN Rahasia checking self assessment seperti yang digunakan oleh bank. Sistem keamanan PIN Rahasia ini sangat efektif karena di dalamnya menyertakan data-data pribadi seperti nama ibu kandung, tempat tanggal lahir, dan lain sebagainya.

“Pemberlakuan sistem PIN Rahasia ini juga wajib dijaga dan dijamin rahasianya oleh para lembaga penyedia jasa dan produk di dunia digital. Hal ini dilakukan agar para user atau pengguna layanan merasa aman dan nyaman. Jika tidak, maka hal tersebut dapat menurunkan kepercayaan dari para pengguna layanan dan efeknya berdampak buruk bagi lembaga tersebut,” pungkasnya. (wh)