Perlu Stimulus untuk Dorong Industri Asuransi

Perlu Stimulus untuk Dorong Industri Asuransi

foto:marxlayne

Penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Butuh stimulus,  dan langkah-langkah  yang bisa mendorong kepesertaan asuransi bisa terus tumbuh.

“Menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk mendorong kepesertaan asuransi bisa terus tumbuh di Indonesia. Untuk itu,  perlu stimulus,  dan inovasi produk asuransi  yang cocok untuk masyarakat,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (IKNB OJK) Firdaus Djaelani di Jakarta.

Menurutnya, untuk meningkatkan asuransi ini, OJK  mendorong dengan membuat  sejumlah peraturan yang bisa mendorong  pengembangan asuransi di Indonesia.

Beruntung, pertmbuhan  asuransi di Indonesia terus tumbuh positf.  Hal ini terlihat dari kinerja pada triwulan I tahun 2016, dimana aset asuransi konvensional mencapai Rp 485,5 triliun atau meningkat 5,31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Adapun investasi asuransi konvensional mencapai Rp 366,6 triliun atau meningkat 31,9 persen, sedangkan investasi asuransi syariah mencapai Rp 24,8 triliun atau meningkat 19,9 persen. “Meskipun kinerjanya penetrasinya masih rendah, namun diharapkan industri asuransi melakukan persaingan yang sehat, kompetitif,  dan amanah,” tegas.

Sementara itu,  Kapala  Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil mengatakan, secara umum, industri asuransi di Indonesia mencatat perkembangan bisnis yang bagus di tahun 2015 yang lalu.

Pertumbuhan premi asuransi secara nasional tercatat sebesar 14 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya tumbuh 10 persen.

Berdasarkan data LRMA, pada tahun 2015 lalu industri asuransi Indonesia mencatatkan premi Rp 197,73 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun 2014 sebesar Rp 173,38 triliun. Premi netonya tercatat Rp161,03 triliun, tumbuh 13 persen dibandingkan dengan tahun 2014 yang tercatat sebesar Rp 142,16 triliun.

Di sisi lain, klaim bruto hanya meningkat 15 persen, dari Rp 99,26 triliun di tahun 2014 menjadi Rp 113,73 triliun di tahun 2015.

Pemimpin LRMA ini optimistis bahwa kinerja industri asuransi yang bagus tahun 2015, akan berlanjut  pada tahun ini, bahkan dengan pertumbuhan lebih tinggi lagi.

“Memang di kuartal pertama yang lalu pertumbuhan ekonomi kita agak melambat, yang berpengaruh pada pertumbuhan premi asuransi. Namun naiknya  belanja pemerintah maupun konsumsi masyarakat, mulai pertengahan hingga akhir tahun mendatang pertumbuhan premi industri asuransi diperkirakan akan meningkat lebih tinggi.,” tuturnya. (wh)