Perlu Pemanfaatan Energi Terbarukan Sektor Transportasi

Perlu Pemanfaatan Energi Terbarukan Sektor TransportasiMenteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan mendorong pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi. Hal itu dikarenakan dapat mendorong kinerja produksi industri dalam negeri, baik dari hulu ke hilir yang terkait dengan sektor tersebut.

“Pemanfaatan bahan bakar nabati dan energi terbarukan bagi sektor transportasi secara khusus juga mendorong peningkatan konten lokal baik dari aspek penguasaan riset, teknologi dan aplikasi dari hulu hingga ke hilir di dalam seluruh mata rantai suplai, produksi dan distribusi,” kata E.E. Mangindaan di Jakarta, Jumat (27/12/2013).

Menurut Menhub, dorongan penggunaan energi terbarukan dinilai juga akan membuka lapangan pekerjaan dan dorongan kegiatan ekonomi baru.

Karena itu, ujar dia, diperlukan penguatan sistim perangkat lunak pada seluruh entitas pemangku kepentingan yaitu dalam bentuk perkuatan kelembagaan, regulasi, kapasitas SDM, bisnis proses dan tata kelola yang lebih modern.

Ia juga menggemukakan, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dalam mendorong Indonesia sebagai negara pertama yang memformalkan aturan hukum bahan bakar penerbangan dengan target bauran energi terbarukan sebanyak 2 persen pada 2016, 3 persen pada 2020, dan 5 persen pada 2025.

Keberhasilan program tersebut, lanjutnya, menjadi tantangan bersama dan perlu disikapi dengan seksama, positif dan kerja profesional yaitu dengan mensinergikan segala elemen-elemen dan sumber daya baik nasional maupun internasional.

“Saya perlu mengingatkan kita semua bahwa komunitas internasional khususnya di bidang aviasi memantau serta berharap Indonesia dapat menjadi role model bagi pemanfaatan `aviation biofuel` (bahan bakar penerbangan) dan `renewable energy` (energi terbarukan) global,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyatakan potensi energi terbarukan di Indonesia yang melimpah belum dimaksimalkan penggunaannya.

“Salah satu contoh adalah energi panas bumi yang potensinya mencapai 30.000 Mega Watt, namun baru dipergunakan 1.300 MW saja,” kata Jero saat memberikan sambutan pada “Bali Energy Charter Conference” di Kuta Bali, Kamis (19/9).

Jero mengatakan, untuk potensi lainnya adalah energi biomassa yang mencapai 50.000 MW, dan baru dipergunakan 1.600 MW, energi angin dengan potensi 9.300 MW dan baru dipergunakan 2 MW saja, energi air memiliki potensi 70.000 MW, sementara energi matahari baru dipakai sebanyak 23 MW.(ant/wh)