Perlu Paradigma Baru soal Investasi

Perlu Paradigma Baru soal Investasi
Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto bersama Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Surabaya Dewi Sriana Rihantyasni saat mengisi Perspective Dialogue, Jumat (23/1/2015).

Investasi pasar saham saat ini tidak hanya bisa dinikmati masyarakat kalangan kelas atas. Kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah pun bisa melakukannya.

Hal itu diungkapkan Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto. “Semua kalangan masyarakat bisa melakukan menanamkan modalnya meski hanya Rp 100 ribu,” katanya saat mengisi Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2015).

Doddi lalu menggambarkan, investasi ini dapat dilakukan kalangan menengah ke bawah dengan pendapatan cekak. Caranya dengan melihat potensi pasar riil seperti pasar properti yang diperkirakan mengalami peningkatan pada tahun ini.

“Kalau kita lihat secara makro, suku bunga pasar riil mengalami gejolak kenaikan. Meski saat ini pasar bisnis properti sedang mengalami inflasi, tapi diperkirakan cukup terkendali. Artinya, tidak terlalu mengkhawatirkan jika uang kita nilainya akan turun. Tapi justru sebaliknya nilai investasi akan terus berkembang,” jelasnya.

Karena itu, jelas Doddi, pihaknya menyarankan bagi kalangan masyarakat kelas menengah yang ingin terjun ke pasar saham lebih baik memilih mengambil Reksadana. Ini karena Reksadana maupun deposit memiliki risiko kecil dibandingkan bermain di pasar saham, kendati suku bunganya lebih kecil.

“Nanti kita harus menentukan mau ke mana? Ke pasar saham, reksadana, atau lainnya. Gambaran pada 2014 lalu, telah sedikit banyak memberi penentu untuk melangkah pada tahun 2015. Terlebih saat ini reksadana sudah mulai dikenal masyaakat secara luas. Ini ditunjukan dari tumbuhnya pengelolaan dana Reksadana sebanyak 38 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, CEO ADN Financial Fadjar Hutomo menjelaskan, tahun ini adalah momentum pertumbuhan investasi di Tanah Air. Karena itu, pihaknya membenarkan jika diperlukan paradigma baru bahwa soal investasi tidak hanya bisa dilakukan oleh kalangan kelas atas, tapi justru sebaliknya.

“Paradigma investasi untuk orang yang punya duit itu harus diubah. Justru bagi orang yang paling butuh duit ini butuh investasi. Kita tahu hari-hari ini biaya hidup masyarakat sangat mahal. Kalau saya melihat potensi di 2014 di Bursa Efek Indonesia di saham perbankan indeksnya naik 20 persen,” jlentrehnya.

Dari data periode Nopember 2014, meski mengalami inflasi tapi justru pasar saham mengalami kenaikan 24 persen. Sektor properti dan konstruksi juga mengalami kenaikan drastis dibanding tahun sebelumnya.

“Pasar obligasi juga mencapai Rp 42 triliun pada tahun lalu. Ini akan memicu gairah investor. Dari sisi demografi penduduk indonesia menurut salah satu lembaga konsultan, konsumen kelas menengah kita jumlahnya saat ini 75 juta jiwa. Lalu akan naik 150 juta pada 2020 mendatang,” bebernya.

Fadjar yakin, naiknya kelas menengah ini akan menjadi lokomotif dan menarik perekonomian di Indonesia. Meski demikian, faktor negatif tentunya juga ada terlebih pembangunan infrastruktur nasional juga belum optimal.

“Bagaimana kebijakan dolar nanti akan menaikan suku bunga. Saya melihat kesempatan untuk tumbuh itu ada. Kita perlu mengedukasi masyarakat, karena orang investasi itu bukan perlu kaya tapi jsutru karena kita pas-pasan harus melakukan investasi,” pungkas dia. (wh)