Perlu Inovasi Teknologi Agar Petani Lebih Produktif

Perlu Inovasi Teknologi Agar Petani Lebih Produktif

Foto:arya wiraraja/enciety.co

Pemanfaatan teknologi sangat dibutuhkan di sektor pertanian. Seperti kebutuhan aplikasi buku pintar untuk menuntun melakukan segala kegiatan produksi pertanian.

“Jika ada, petani dapat lebih efektif dan produktif,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/10/2019).

Kresnayana mencontohkan, beberapa langkah tepat guna yang bisa dilakukan petani jika dapat memanfaatkan teknologi tepat guna. Di antaranya pemanfaatan pupuk yang tepat. Ada rumusan 532 yang artinya, 5 pupuk organik, 3 pupuk NPK dan 2 pupuk urea. Rumusan ini digunakan untuk menyuburkan tanah.

“Jadi penggunaan pupuk bisa tepat dan tidak terlalu banyak seperti sekarang ini. Dengan hadirnya semacam aplikasi yang dapat menuntun para petani ini, jelas mereka tidak menghabiskan ongkos produksi dan bisa meningkatkan produktivitasnya,” papar dia.

Di sisi lain, pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.
untuk meningkatkan sektor pertanian harus didukung berbagai aspek. Salah satunya lembaga keuangan. Sampai saat ini, lembaga keuangan masih belum mau fokus membantu para petani.

“Jika perbankan bisa memahami petani dan kredit, saya yakin petani ini pasti bisa lebih sejahtera. Padahal, risiko pertanian di Jatim ini sangat rendah. Contohnya risiko gagal panen gara-gara cuaca, angkanya itu relatif kecil,” papar Kresnayana.

Dia menambahkan, inovasi di sektor pertanian tidak hanya datang dari para ahli pertanian. Inovasi bisa datang dari mana saja. Contohnya, ahli informasi teknologi (IT), teknik, dan lain sebagainya.

“Di antaranya, para ahli ini dapat menciptakan alat penunjang. Contohnya, para ahli IT, bisa menciptakan alat pendeteksi hama, alat yang mengukur kandungan dalam tanah, dan lain sebagainya. Saya yakin inovasi dari alat-alat ini bisa berguna bagi petani,” kupas Kresnayana.

Terakhir, kata Kresnayana, agar dapat memajukan pertanian dan pangan, sudah saatnya masyarakat melakukan diversifikasi pangan. Kata dia, sampai saat ini masyarakat masih belum bisa “move on” dari komuditas pokok beras.

“Bayangkan, jika kebutuhan beras kita berkurang sekitar 15-20 persen saja per tahun, kita dapat memproduksi beras dengan kualitas yang jauh lebih bagus. Nilai tambahnya lebih berimbang,” tandas Kresnayana. (wh)