Perlambatan Ekonomi Turunkan Minat Beli Apartemen

Perlambatan Ekonomi Turunkan Minat Beli Apartemen
foto: apaview.com

Perlambatan ekonomi di dalam negari sebagai dampak merosotnya ekonomi global mulai menahan minat investor properti, khususnya untuk penjualan apartemen menengah atas  dengan harga di atas Rp 1,5 miliar. Investor memilihwait and see untuk berinvestasi di sektor properti.

“Perlambatan ekonomi membuat investor property menunda pembelian. Secara rata-rata penjualan apartemen menengah atas turun sekitar 30 persen tahun ini,” ujar pengamat properti Anton Sitorus, Kamis (27/8/2015)

Menurutnya, turunnya minta membeli property  terjadi di seluruh segmen, namun tingkat penurunannya berbeda-beda.  Turunnya penjualan segmen atas tak lepas dari proyeksi turunnya kenaikan harga property karena perlambatan ekonomi. “Untuk kelas atas kenaikan harga bisa property bisa mencapai dua sampai tiga kali inflasi.Saat ini mungkin  turun jauh, sehingga investor menunda pembelian,” katanya.

Sementara untuk segmen bawah, pembelian  rumah menunda pembelian karena naiknya biaya bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang akan berpengaruh terhadap biaya cicilan rumah. “Itu faktor yang mendorong  property menengah bawah turun. Tapi, penurunannya memang tidak secepat kelas di atasnya,” imbuh  peneliti dari Lembaga Riset Properti Sacills Indonesia ini.

Menurutnya, imbal hasil (yield) untuk investasi apartemen yang tercermin dari kenaikan harga berpengaruh besar terhadap minta investor menanamkan dananya di sektor property.  “Pembeli apartemen kelas atas menunda pembelian karena harga perkiraan turunnya kenaikan harga karena  kondisi makro ekonomi yang tidak bagus,” kata Anton.

Turunnya minat membeli apartemen kelas atas diakui dua raksasa pengembangan apartemen kelas atas di Surabaya.

Prananda Herdiawan,  Corporate Communication PT Intiland Development Tbk mengakui perlambatan ekonomi berpengaruh terhadap penjualan sejumlah proyeknya di Surabaya. “Pengaruh  pasti adatapi tidak terlalu besar,” katanya.

Dia mencontohkan, Intiland beberapa pekan lalu masih mampu melakukan penjualan secara pre-sales untuk apartemen Graha Golf di Ghara Family. “Kita masih bisa satu  tower  apartemen  dengan  79 unit  secara pre sales. Artinya, pasar tetap ada untuk saat ini,” katanya.

Di Surabaya, Intiland mengembangkan sejumlah proyek, seperti  Apartemen Praxis,  pusat  perkantoran Spacio dan apartemen Sumatera 36.  “Tahun ini kita serah terima kunci untuk apartemen kita di Sumatera 36. Di sana, telah terjual sekitar 70 persen,” katanya.

Sementara  Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Ivy Wong mengaku perlambatan ekonomi yang terjadi sepanjang tahun 2015 sedikit banyak berpengaruh terhadap minat investor untuk membeli apartemen. “Kalau dibilang tidak ada pengaruh yang tidak mungkin.  Pasti ada pengaruh,” katanya.

Namun, katanya pengaruh itu dapat dieliminir Pakuwon karena produk yang ditawarkan  sangat beragam. “Kita tidak hanya menjual apartemen, tetapi juga memasarakna kavling, residensial, perkantoran dan pusat perbelanjaan.  Ini yang menyebabkan penjualan kitatetap bagus di tengah tekanan makro ekonomi yang cukup besar,” katanya.

Tahun ini, Pakuwon berharap bisa membukukan penjualan sebesar Rp 3,4 triliun, tumbuh  dari penjualan tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 3,1 triliun. Penjualan property Pakuwon di Surabaya memberi kontribusi sekitar 70 persen, sisanya dikontribusikan dari penjualan sejumlah porperty di Jakarta.

Dia mengatakan bahwa tahun ini, Pakuwon siap melakukan serah terima apartemen untu proyek di Pakuwon City dan Pakuwon Indah  sekitar 2300 unit.(wh)