Perkuat Infrastruktur, TPID Jatim Siap Kendalikan Inflasi 2017

Perkuat Infrastruktur, TPID Jatim Siap Kendalikan Inflasi 2017

Difi Ahmad Johansyah, Direktur Eksekutif TPID dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, dalam acara Hight Meeting Level TPID Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/7/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

TPID Provinsi Jawa Timur telah berhasil mengawal pencapaian inflasi Jawa Timur sepanjang Ramadhan dan Lebaran, sehingga Jawa Timur berhasil mencatatkan inflasi terendah di Kawasan Jawa (diluar Provinsi DKI Jakarta).

“Bahkan, akumulasi pencapaian inflasi Jawa Timur dalam periode Ramadhan & Lebaran ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi periode Ramadhan & Lebaran dalam kurun 3 tahun terakhir,” ujar Difi Ahmad Johansyah, Direktur Eksekutif TPID yang juga Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, dalam acara Hight Meeting Level TPID Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/7/2017).

Selain itu, pertama kali dalam kurun 5 tahun terakhir, inflasi kelompok volatile food pada periode Lebaran (Juli-17) tercatat deflasi sebesar -0,01 persen mtm, sehingga dapat menopang terkendalinya inflasi umum (IHK) Jawa Timur di tengah meningkatnya tekanan inflasi kelompok administered price.

“Berbagai upaya yang dilakukan oleh seluruh jajaran instansi yang tergabung dalam TPID Provinsi Jawa Timur maupun pihak swasta yang turut bersinergi dalam menjaga ketersediaan pasokan dan mengendalikan eskpektasi masyarakat, khususnya melalui Sinergi Gerai Stabilisasi Harga Pangan dan upaya pengamanan kelancaran distribusi oleh Satgas Pangan dinilai telah berhasil meredam gejolak harga menjelang Lebaran yang biasanya mengalami peningkatan,” kupas dia.

Menurut dia, inflasi Jawa Timur di tahun 2017 diperkirakan berada dalam batas kisaran sasaran inflasi 4±1 persen. Namun demikian, TPID Provinsi Jawa Timur masih terus mewaspadai potensi risiko inflasi, terutama bersumber dari penyesuaian administered prices, sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah.

Potensi risiko inflasi yang cenderung meningkat tersebut sebagai dampak kenaikan inflasi di kelompok administered price dibandingkan tahun lalu yang didorong penyesuaian tarif listrik 900VA sesuai keekonomiaanya secara bertahap, yaitu pada Bulan Januari, Maret dan Mei. Sekain itu ada penyesuaian harga rokok akibat kenaikan cukai, penyesuaian jasa perpanjangan STNK, serta kenaikan harga BBM non subsidi sejalan dengan tren kenaikan harga minyak dunia.

“Di samping itu, dampak lanjutan berbagai kebijakan administered price tersebut terhadap kenaikan harga komoditas di kelompok volatile food dan core pun perlu menjadi perhatian,” tegas Difi.