Perjanjian Kerja Sama Percepat Pembangunan Trem Surabaya

Perjanjian Kerja Sama Percepat Pembangunan Trem Surabaya
Tri Rismaharini

Meski di lapangan publik belum melihat adanya pengerjaan fisik, namun rencana proyek angkutan massal cepat (AMC) berupa trem terus menunjukkan progres signifikan. Rencananya, Rabu (23/9/2015) pekan depan penandatanganan kerja sama (PKS) antara pemkot, kemenhub dan PT KAI sudah bisa dilakukan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan, PKS tersebut mampu mempercepat pelaksanaan proyek.

“Dengan adanya PKS, pembagian tugas antar instansi menjadi lebih detail dan komprehensif. Adapun yang menjadi domain kemenhub adalah menyediakan anggaran sekaligus melaksanakan pembangunan proyek menggunakan APBN,” katanya, Kamis (17/9/2015).

Untuk PT KAI, sambung dia, kebagian tugas menyiapkan lahan untuk depo trem serta pengoperasionalan moda transportasi tersebut. Sedangkan hal-hal yang sifatnya membantu kelancaran pembangunan akan di-support oleh pemkot.

Hal itu sebagai tindak lanjut MoU yang diteken pada 28 April lalu. Agus menampik jika progres pembangunan trem berjalan lambat.

Sejak pertemuan dengan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada 23 November 2013, pemkot secara intens terlibat dalam rapat koordinasi yang melibatkan satker kemenhub di Surabaya dan PT. KAI. Hal-hal yang dibahas meliputi pematangan trase, pembahasan mekanisme tiket, penyiapan lahan, termasuk pemantapan naskah PKS yang akan ditandatangani nanti.

Tak hanya itu, menurut Agus, pemkot menggandeng perguruan tinggi juga telah menelusuri kembali jalur trem lama di Surabaya dengan alat ground penetrating radar (GPR). Semua itu menjadi suatu kesatuan pemantapan proyek trem.

“Berbagai upaya pengkajian dan pematangan rencana proyek trem dibahas detail agar di kemudian hari tidak ada masalah pasca pembangunan,” kata Agus.

Ia memperkirakan setelah PKS anggaran Rp 124 miliar yang ada di kemenhub dapat difokuskan pada penyelesaian detail engineering desain (DED). Dengan demikian, lelang fisik dapat dimulai akhir tahun ini atau setidaknya awal tahun depan. Proses lelang diprediksi memakan waktu dua bulan. Setelah itu, pembangunan trem dapat dilaksanakan. Agus melanjutkan, pengembangan angkutan trem akan dilakukan secara bertahap.

Tahap pertama, pengembangan angkutan massal ini dimulai dari depo trem lama di Bumiharjo, Joyoboyo melewati Jl. Raya Darmo hingga ke utara sampai persimpangan Jl. Indrapura – Jl. Rajawali. Di sepanjang jalur tersebut akan dibangun titik-titik halte/shelter yang letaknya strategis dengan pusat kegiatan masyarakat metropolis.

Selanjutnya, pada tahap kedua, rencana pengembangan trem ini akan diintegrasikan dengan Pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan, kata Agus, ada pula rencana cadangan yang melanjutkan pengembangan trem hingga Terminal Purabaya via frontage road Ahmad Yani sisi barat.

“Kalau rencana itu jadi terealisasi, warga dari Sidoarjo bisa memarkir kendaraan pribadinya di Terminal Purabaya. Setelah itu melanjutkan perjalanan dengan trem menuju pusat kota Surabaya. Dengan begitu, beban jalan akan kendaraan pribadi dapat tereduksi,” terangnya. (wh)