Peringkat Daya Saing Indonesia Naik

Peringkat Daya Saing Indonesia NaikPeringkat daya saing Indonesia naik dari urutan 50 menjadi 38 dari 148 negara menurut peringkat Forum Ekonomi Dunia 2013. Peningkatan daya saing itu bisa menjadi modal Indonesia memasuki pasar tunggal sebagai bagian komitmen Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015.

Daya saing antara lain dihitung berdasarkan produktivitas dan kesejahteraan di masing-masing negara. Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo menuturkan, untuk bersaing di pasar tunggal ASEAN, pelaku usaha harus meningkatkan standar kualitas produknya.

”Rata-rata tarif impor sudah turun di negara-negara ASEAN sehingga kontrol terhadap sebuah produk hanya bisa mengandalkan kualitas. Ini akan menjadi alat yang efektif untuk mendorong pelaku usaha supaya membuat produk yang lebih aman, sehat, dan ramah lingkungan,” kata Widodo.

Peningkatan daya saing Indonesia di tingkat dunia itu ditopang oleh peningkatan daya saing 10 sektor, yakni institusi, infrastruktur, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis (business sophistication), dan inovasi. Hanya ada dua sektor yang mengalami penurunan peringkat, yakni kondisi ekonomi makro dan pendidikan dasar dan kesehatan.

Kesepakatan mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN akan mendorong kawasan regional itu sebagai basis produksi dan pemasaran. Investor akan menanamkan modal untuk industri manufaktur di sebuah negara lalu mendistribusikan secara langsung untuk kawasan ASEAN.

Dengan basis produksi tunggal itu, investor juga akan makin mudah mengekspor produk keluar ASEAN. Ini adalah salah satu faktor yang akan menarik investor ke kawasan ASEAN.

Ketua Pembina ASEAN Competition Institute Soy Martua Pardede menuturkan, pasar bersama ASEAN adalah peluang bagi para pengusaha karena segmen pasar makin luas. Namun, Indonesia masih tertekan kepentingan jangka pendek, yakni mengisi kas negara sehingga keunggulan komparatif belum berhasil dimanfaatkan menjadi keunggulan kompetitif di regional ASEAN.

Keunggulan komparatif Indonesia, antara lain, bidang minyak dan gas, batubara, dan hutan. Kepentingan jangka pendek untuk meningkatkan kas negara menyebabkan selama ini sumber daya alam itu diekspor dalam bentuk mentah.

”Langkah pemerintah untuk memperkuat hilirisasi produk harus terus didorong supaya nilai tambah produk semakin meningkat. ASEAN bersama China, Jepang, dan India akan menjadi pendorong ekonomi Asia sehingga Indonesia tak boleh melewatkan kesempatan untuk bersaing di tingkat ASEAN,” kata Soy.

Walaupun daya saing pada 2013 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dengan 2012, Indonesia masih tetap perlu bekerja lebih keras saat pasar tunggal ASEAN diimplementasikan pada 2015. Posisi Indonesia tepat berada di bawah Thailand (37). Di papan atas masih ada beberapa negara ASEAN yang memiliki daya saing lebih baik daripada Indonesia, yakni Brunei (26), Malaysia (24), dan Singapura (2). Singapura berada di tempat yang sama sebagaimana pada 2012. (kompas/bh)