Perguruan Tinggi Harus Bisa Ciptakan Minimal 40 Persen Sarjana Startup

Perguruan Tinggi  Harus Bisa Ciptakan Minimal 40 Persen Sarjana Startup
Rektor ITS Surabaya Prof Ir Joni Hermana MSc. ES dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya (SS), Jumat (16/10/2015). arya wiraraja/enciety.co

Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia kini harus bisa menjadi sebuah ajang tombak perubahan. Hingga kini, tercatat ada 3.200 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada dan terdiri dari berbagai cluster.

“Suatu perguruan tinggi baik negeri atau swasta diharapkan minimal 30 atau 40 persennya harus menciptakan sarjana yang start up,” tegas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam Perpective Dialogue bertajuk “Peranan Perguruan Tinggi menjadi Akselerator Pembangunan Teknologi sebagai Katalis Utama dalam Penyebaran dan Peningkatan Kesejahteraan” di Radio Suara Suarabaya, Jumat (16/10/2015).

Menurut dosen statistika ITS ini, memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau pasar global, Indonesia yang didukung tekhnologi harus membuka pintu informasi dengan dunia luar.

“Perguruan tinggi kebutuhannya berbeda dibading beberapa waktu lalu. Untuk mendapatkan suatu pelajaran di masyarakat mereka kini mempunyai tuntutan yang sangat besar,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Prof Ir Joni Hermana MSc. ES mengatakan, ada dua hal yang perlu diacapai sebuah perguruan tinggi. Pertama, bagaimana sebuah penemuan yang didapat harus bermanfaat bagi masyarakat dan yang kedua adalah publikasi.

“Penemuan jangan hanya dari hulu ke hilir, tetapi perguruan tinggi seperti ITS harus berperan menghasilkan berbagai karya ilmiah yang bermanfaat bagi bangsa ini,” tegas Joni.

Kata dia, perguruan tinggi diharapkan tidak terlalu mainstream mengikuti pendidikan negara lain. Perguruan tinggi dalam negeri tidak untuk jadi pengikut (follower) produk pendidikan luar negeri.

“Namun diharapkan SDM dan supporting system harus memenuhi syarat untuk bersaing di luar negeri. Dan ini juga harus didukung oleh yang lainnya,” ujarnya.

Menurut Joni, perguruan tinggi di Indonesia harus jadi leader dan memberikan keuntungan bagi masyarakat agar lebih efektif. Diakuinya, setahun terakhir ini pihaknya berusaha memetakan atau meng-cluster penelitian agar lebih fokus dan jelas.

Di ITS kini dikerucutkan ada lima penelitian yaitu maritim, energi alternatif, lingkungan,  Information and Communication Technology atau yang biasa dikenal dengan Teknologi Informatika (ICT) dan material energi terbarukan.

Selain itu, ITS sendiri membangun Techno Park agar penelitiannya tidak tercecer dan masyarakat dapat mengetahui keberhasilan dari sebuah penelitian tersebut.

“Penelitian harus menjadi kegiatan manfaat, seperti kami yang kini punya desa binaan. Ke depannya, diharapkan tekhnologi dapat menyokong perekonomian,” tandasnya. (wh)