Perekonomian Diprediksi Pulih Desember 2020

Perekonomian Diprediksi Pulih Desember 2020

Didik Suryanto bersaa Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Tidak dipungkiri, pandemi menjadi faktor utama penurunan perekonomian Indonesia dan dunia. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi para pelaku usaha.

Diharapkan pada triwulan ketiga dan keempat, perekonomian dapat berangsur pulih. Diperkirakan pada Desember 2020 mendatang, semua pihak sedang mengupayakan vaksinasi akan dilakukan.

“Jika hal tersebut diberlakukan, maka perekonomian akan berangsur pulih. Untuk itu, kita harus bisa melihat perubahan-perubahan apa saja yang terjadi sampai akhir tahun 2020 ini,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2020).

Dia menambahkan, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada Juni 2020 sebanyak 775,5 ribu orang atau naik 791,38 persen dibanding Mei 2020 yang tercatat sebesar 87 ribu. Kenaikan ini seiring pelonggaran pembatasan sosial berskala besar atau PSBB dibeberapa daerah.

Peningkatan jumlah penumpang pesawat terjadi di semua bandara utama seperti penumpang yang melalui Bandara Juanda-Surabaya naik 1.087,04 persen, Kualanamu-Medan 694,44 persen, Soekarno Hatta-Banten 534,18 persen, Hasanuddin-Makassar 504,48 persen, dan Ngurah Rai-Denpasar 375 persen.

Jumlah penumpang yang menggunakan jasa angkutan pesawat di Bandara Internasional Juanda Surabaya disaat liburan HUT ke-75 RI meningkat sebanyak 24 persen jika dibandingkan saat liburan Hari Raya Idul Adha beberapa waktu lalu.

Pada periode liburan Agustus 2020 ini, sambung Kresnayana, tercatat jumlah penumpang dari tanggal 14 Agustus hingga 19 Agustus telah mencapai 86.923 penumpang. Sedangkan pada libur Hari Raya Idul Adha 70.141 penumpang terhitung tanggal 28 Juli hingga 2 Agustus 2020.

“Sedangkan untuk pergerakan pesawat Bandara Juanda, melayani sebanyak 982 penerbangan atau meningkat 21 persen dari periode libur sebelumnya sebanyak 814 penerbangan,” papar Bapak Statistika Indonesia itu.

Sebagai perbandingan pada 2019, Industri penerbangan nasional masih berada dalam tekanan. Pangkal perkaranya adalah melambatnya pertumbuhan penumpang yang dipicu mahalnya harga tiket pesawat sejak awal tahun lalu.

Pertumbuhan penumpang angkutan udara domestik sepanjang Januari-Oktober 2019 menurun hingga 19 persen jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara okupansi angkutan udara internasional cuma tumbuh 4,12 persen atau melambat dibandingkan periode Januari-Oktober 2018 yang tercatat tumbuh 7,15 persen. (wh)