Perdagangan Jatim Harus Kurangi Ketergantungan Impor

Perdagangan Jatim Harus Kurangi Ketergantungan Impor
Kresnaya Yahya (kanan) saat mengisi Seminar Proyeksi Ekonomi dan Perdagangan di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (20/2/2014).

 

Sepanjang 2013, transaksi perdagangan Jatim defisit sekitar USD 10 miliar. Nilai itu tidak lepas dari nilai impor mencapai USD 25,5 miliar, dan ekspor hanya USD 15,5 miliar. Kondisi ini disebabkan ketergantungan perdagangan Jatim terhadap impor cukup tinggi.

Demikian hal itu disampaikan pakar ekonomi dan statisitik, Kresnayana Yahya disela-sela “Seminar Proyeksi Ekonomi dan Perdagangan” yang dihelat Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (20/2/2014).

“Upaya untuk mengurangi defisit itu diharapkan dengan meningkatkan kualitas produksi untuk kebutuhan ekspor. Selain itu, sektor perdagangan Jatim diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap bahan pokok untuk kebutuhan industri yang masih impor,” kata Kresnayana Yahya.

Menurut dia, dari total kebutuhan impor, sekitar 40 persen untuk konsumsi dalam negeri, dengan nilai Rp 200-300 triliun. “Ini yang harus direm,” cetus Chairperson Enciety Business Consult ini.

Kresnayana menambahkan, langkah untuk menekan impor dengan meningkatkan kualitas produksi dalam negeri. Tentu tujuannya, agar komoditi dalam negeri bisa dilirik sekaligus sebagai pengganti produk-produk impor.

Beberapa komoditi yang sudah saatnya digenjot untuk ditingkatkan secara kualitas adalah kertas, biji plastik, dan telepon genggam. “Produk-produk tersebut saat ini mampu diproduksi didalam negeri mampu dieskpor dalam jumlah besar,” kata dosen statistik ITS Surabaya ini.

Data yang disampaikan seperti furnitur sebesar USD 0,93 miliar, kertas karton USD 1,01 miliar, lemak nabati USD 1,36 miliar, dan perhiasan USD 1,22 miliar. Kresnayana menyoroti tingginya nilai impor untuk ampas yang mencapai USD 1,3 miliar.

“Lha wong ampas sisa makanan saja harus impor,” sindirnya.

Terpisah, Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Isdarmawan Asrikan menegaskan, tantangan menekan defisit tahun ini cukup besar. Salah satu upaya Jatim yang harus dilakukan dengan agar mengurangi ketergantungan komoditi dari dareah lain.

“Contoh saja kebutuhan untuk furniture dan pertanian, sekitar 8 persen diambil dari  Kalimantan dan negara tetatangga. Masalahnya, banyak lahan disulap untuk komoditi musiman. Sehingga kebutuhan industri di Jatim sendiri kekurangan dan harus mengambil dari daerah lain,” tutupnya. (wh)