Peran Kaum Muda dalam Inovasi Sosial

Peran Kaum Muda dalam Inovasi Sosial
Chairperson Enciety Business Consul Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Peduli terhadap lingkungan sosial bukan lagi diukur berdasarkan materi dan umur. Kini, jiwa sosial dapat diwujudkan melalui sebuah ide atau melakukan inovasi sosial. Ide atau gagasan sosial yang tertuang dalam inovasi sosial itu tidak lantas bertendensi pada mencari uang atau materi semata.

Namun, inovasi sosial itu diwujudkan atau dilakukan berdasar pada rasa ingin mengubah kehidupan sosial di masyarakat. Saat ini, pemuda dan masyarakat telah menyadari dan berpikir jika everything is marketing. Jika konsep inovasi sosial ini tidak disokong, didorong, atau digiatkan, maka hasilnya akan sama saja.

Dalam konsep inovasi sosial ini harus ditanamkan kepada pemuda kita. Perlu dicatat, populasi penduduk Indonesia yang berusia di bawah 28 tahun ada sekitar 130 juta. Sedangkan usia antara 18-34 tahun yang kita memiliki 100 juta, usia di atas 35 tahun yang memiliki jiwa muda ada sekitar 150 juta orang.

Ke depan saya memprediksi konsep ini bakal dipakai oleh para pemuda dan orang berjiwa muda Indonesia. Banyak yang dapat dilakukan oleh pemuda kita untuk mengubah gaya bisnis yang saat ini dilakukan kebanyakan orang Indonesia. Saya menyebut ada istilah cheering economic atau peer to peer economic.

Istilah anak muda zaman sekarang, “loe punya apa gue punya apa ayo kita joinan.” Jadi sebenarnya, sistem ekonomi kita ke depan adalah sistem barter yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu. Hal ini disebabkan karena perkembangan sosial media yang semakin pesat, sehingga pola komunikasi dan pertukaran ide semakin cepat. Secara tidak langsung, hal inilah yang membuat proses ekonomi tanpa batasan ruang dan waktu.

Seperti ketika kita akan berpergian ke luar negeri, secara tidak sadar kita akan memanfaatkan kemajuan teknologi dengan melakukan browsing ke tempat tujuan kita. Kita mulai bertanya dan mencari-cari informasi di media sosial terkait potensi wisata di daerah yang akan kita kunjungi, hotel yang murah, dan akses transportasi yang akan kita gunakan. Jika dirasa pas, kita akan langsung memesan dan tagihan akan langsung dibayar dengan menggunakan e-banking. Bagi yang beruntung, mereka dapat tempat menginap gratis dari teman atau kolega mereka yang tinggal di daerah tersebut, secara tidak langsung ini yang dinamakan peer to peer economic.

Fenomena ini dapat kita tarik kesimpulan, jika pada dasarnya manusia merupakan makhluk entrepreneur. Dalam arti, manusia jika dibebaskan untuk berpikir dan bertindak, maka manusia akan melakukan sesuatu yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Kebanyakan, jiwa-jiwa kreatif akan muncul ketika kepepet. Contohnya, para pendaki gunung, bagaimana mereka bisa bertahan jika mereka tidak berpikir kreatif dengan mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan.

Sebaiknya, para anak muda saat ini mau menantang perkembangan zaman dengan berkontribusi memberikan perubahan di bidang sosial. Lewat konsep inovasi sosial, kita, terutama anak-anak muda dapat menciptakan perubahan bagi negara ini agar menjadi lebih baik lagi. (*)