Penutupan Dolly Tak Akan Berdampak Migrasi PSK

 

Penutupan Dolly Tak Akan Berdampak Migrasi PSK

Ditutupnya lokalisasi terbesar di Indonesia, Dolly dan Jarak, bukan tanpa pertimbangan. Berbagai dugaan atas dampak penutupan lokalisasi lalu merebak. Salah satunya ialah kemungkinan migrasi besar-besaran para Pekerja Seks Komersial (PSK) Dolly-Jarak ke luar kota Pahlawan.

Menanggapi hal itu, Wali kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan telah berkomunikasi dengan pemerintah daerah sekitar. Risma menegaskan, tuduhan migrasi besar-besaran tersebut adalah fitnah.

“Memang ada pemda yang sempat protes ke saya. Katanya PSK di wilayahnya makin banyak karena ada wacana Dolly ditutup. Tapi setelah saya cek ke sana, ternyata bukan dari Dolly,” ujarnya di sela-sela pertemuan dengan Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) di ruang kerjanya, Rabu (14/5/2014).

Perempuan kelahiran Kediri itu melanjutkan, para PSK yang terjaring razia di berbagai daerah di Jawa Timur itu mengaku berasal dari Dolly agar tak berpanjang urusan. “Mereka ngaku-ngaku dari Surabaya supaya gampang aja,” cetusnya.

Risma menegaskan, bila memang terbukti PSK yang lari ke tempat pelacuran di wilayah lain itu berasal dari Dolly, pihaknya siap menanggung kembali. “Bahkan kalau memang terbukti itu warga Surabaya, akan saya ambil. Kalau perlu saya jemput,” tuturnya.

Alumnus Arsitektur ITS itu lantas memaparkan, 98 persen penghuni kawasan Dolly-Jarak bukan warga Surabaya. “Mucikari itu juga, 90 persen bukan warga sini. Jadi model penyelesaiannya memang berbeda,” imbuhnya.

Pendekatan personal, lanjut Risma, merupakan strategi ampuh pemkot Surabaya dalam menyelesaikan permasalahan prostitusi di kota Pahlawan. “Pendekatan ketemu seperti rapat-rapat itu, ndak akan berhasil. Percaya sama omongan saya. Satu marah, satu begini, ndak akan selesai. Tapi langsung ke dalam, secara personal,” tandasnya.

Ia membuktikan keberhasilan pendekatan personal tersebut saat menutup 4 lokalisasi sebelumnya, yakni Dupak Bangunsari, Kremil Tambak Asri, Klakah Rejo, dan Sememi. “Mereka harus didekati satu-satu, dia inginnya apa. Kami terus memikirkan masa depan PSK di situ. Karena jangan sampai selesai menjadi PSK, mereka ndak punya apa-apa,” tutur Risma.

Untuk itu, melalui Bapemas, Dinas Sosial, dan berbagai SKPD secara terpadu memberikan pelatihan untuk mempersiapkan mereka mentas dari dunia hitam. “Kami siapkan langkah-langkah agar perekonomian warga sekitar bisa hidup melalui sentra PKL atau juga pasar. Dan kami persiapkan itu sejak 2010,” tambah Asisten Kesejahteraan Rakyat, Eko Haryanto.

Selain pelatihan, pendampingan kepada para PSK dan warga setempat yang terdampak, juga dilakukan. Tak hanya sekali saja, namun hingga mereka benar-benar mampu mandiri dan sukses. “Kami dibantu Universitas Ciputra untuk melakukan pendampingan usaha nantinya,” tutup Eko. (wh)