Penurunan Harga BBM Berdampak Positif pada Target Inflasi

Penurunan Harga BBM Berdampak Positif pada Target Inflasi
foto: avot hidayat/enciety.co

Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) diharapkan memberi dampak yang signifikan untuk menurunkan angka inflasi di Jatim. Pada 2014 lalu, inflasi Jatim terhitung masih tinggi yakni sebesar 7,77 persen yang salah penyebabnya karena kenaikan harga BBM.

“Kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM kita sambut baik karena akan memberikan dampak positif pada target inflasi atau proyeksi inflasi Jatim tahun 2015,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jatim, Benny Siswanto.

Dia berharap kebijakan penurunan harga BBM ini segera diikuti dengan penurunan harga barang dan tarif/biaya transportasi sehingga bisa menekan inflasi. Untuk itu, diperlukan kerja keras dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jatim. Mengingat pascapenurunan harga BBM, saat ini belum semua jenis komoditas turun harga.

”Dibutuhkan koordinasi yang baik di TPID dengan pihak-pihak terkait agar penurunan harga BBM bisa membawa manfaat untuk masyarakat,” kata dia.

Menurut Benny, salah satu cara menurunkan harga barang bisa dilakukan oleh masing-masing anggota TPID yang tersebar di beberapa daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah perlu untuk turut memantau kondisi di lapangan.

“Termasuk membuat kebijakan di masing-masing wilayah dalam rangka turut membantu menurunkan harga barang seperti dengan melakukan operasi pasar,” tegasnya.

Benny optimistis target inflasi Jatim di bawah lima persen pada tahun ini bisa terealisasi pasca-kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM. Terlebih penurunan harga dilakukan di awal tahun yang biasanya akan membawa dampak positif terhadap penurunan harga barang.

“Setidaknya pencapaian target inflasi ini akan lebih cepat. Kalau biasanya November, bisa maju September,” terang dia.

Ia melanjutkan, sejauh ini meski ada penurunan harga BBM, proyeksi inflasi Jatim masih tetap dan tidak ada revisi. Inflasi ditargetkan turun dibandingkan 2014 lalu, yakni menjadi 4 plus minus 1 persen.

“Penurunan inflasi Jatim ini biasanya terbantu saat BI dan TPID Jatim turun tangan,” tandasnya.

Seperti ketika ada lonjakan harga, maka TPID akan turun bersama pemerintah daerah dan dinas terkait dengan menggelar operasi pasar untuk beberapa komoditas barang tertentu yang menyumbang inflasi seperti beras, gula pasir, tepung terigu, dan minyak goreng. (wh)