Penjualan Sepatu Diprediksi Merosot

Penjualan Sepatu Diprediksi Merosot

 

Penjualan sepatu dan alas kaki di dalam negeri tahun ini diprediksi akan mengalami stagnasi, bahkan turun. Meski demikian, untuk pasar ekspor justru diprediksi akan naik 10 persen menjadi USD 4,4 miliar.

Menjelang pemilihan umum, biasanya pemesanan untuk sepatu dan alas kaki meningkat. Namun, sudah lebih dari dua bulan, belum ada tanda-tanda pemesanan.

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisndo) Eddy Wijanarko menyampaikan, tahun ini penjualan sepatu dan alas kaki untuk lokal akan menurun. “Biasanya menjelang pemilu ramai, tetapi sekarang sepi sekali. Toko-toko mengurangi stok, takut tidak ada yang beli,” kata Eddy akhir pekan ini.

Padahal, di pemilu yang sebelumnya banyak permintaan untuk sepatu. Biasanya partai membagi-bagikan sepatu. Ada juga gerakan uang-uang partai yang disebar ke masyarakat.

Eddy memprediksi penjualan sepatu lokal tahun akan stagnan bahkan merosot. “Tahun lalu penjualan sepatu domestik Rp 27 triliun. Tahun ini stagnan, bahkan bisa merosot ke Rp 20 triliun,” kata Eddy.

Untuk ekspor, tahun ini penjualannya minimal stagnan. Maksimum bisa melonjak 10 persen. “Total  ekspor 2013 US$ 4 miliar. Tahun ini maksimum bisa 4,4 miliar dolar AS,” kata Eddy.

Eddy bilang meski mencapai 4,4 miliar dolar AS itu pangsa pasar sepatu dan alas kaki hanya sekitar 3 persen di dunia internasional.

Seperti yang sudah disampaikan Eddy sebelumnya, tahun ini tantangan terbesar adalah kenaikan upah minimum regional (UMR). Menurut Eddy, sebaiknya memindahkan pabrik di Jakarta ini ke daerah-daerah lain.

“Sekarang sudah ada 21 pabrik yang direlokasi. Ada yang ke Jawa Tengah dan ada yang Jawa Timur. Tahun ini belum ada yang akan tutup,” ujarnya. (ktn/bh)