Penjualan Ritel Ditarget Tumbuh 20 Persen selama Puasa dan Lebaran

Penjualan Ritel Ditarget Tumbuh 20 Persen selama Puasa dan Lebaran
sumber foto: lensaindonesia

Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur menarget penjualan tumbuh 20 persen pada bulan puasa dan Lebaran tahun jni dibanding tahun 2014. Karena pada tahun ini diperkirakan daya beli menurun akibat perlambatan ekonomi.

“Kami tidak berani terlalu optimis, lebaran tahun ini kami hanya menargetkan pertumbuhan penjualan akan mencapai 20 persen dibanding hari biasa dan jika dibanding tahun lalu, kami mematok pertumbuhan sebesar 5 persen. Sementara stok, pengusaha ritel hanya meningkatkan rata-rata sebesar 20 persen hingga 30 persen,” ujar Ketua Aprindo Jatim, Qomaru Zaman, di Surabaya, Jumat (5/6/2015).

Rendahnya target pertumbuhan yang dipatok tidak lepas dari kondisi ekonomi dewasa ini yang cukup berat. Bahkan ia mengaku, tahun ini menjadi tahun terberat selama 10 tahun ini. Ia menuturkan, melemahnya ekonomi disertai dengan berbarengannya momen tahun ajaran baru sekolah menjadi faktor dominan yang memicu rendahnya daya beli masyarakat saat ini.

“Rendahnya daya beli ini sudah terasa sejak Januari yang lalu. Dan semua bermula dari kenaikan Bahan Bakar Minyak pada Desember 2014 yang cukup tinggi. Bahkan penurunan BBM pada pertengahan Januari dan Februari tidak mampu untuk kembali mengereknya menjadi lebih tinggi,” akunya.

Ia mengaku, sejak Januari yang lalu, realisasi penjualan di seluruh gerai ritel di Jatim mengalami stagnan bahkan cenderung turun. Meskipun untuk barang kebutuhan pokok tetap mengalami pertumbuhan sebesar 5% hingga 10%, namun untuk non food mengalami penurunan sebesar 10% hingga 20%.

“Mudah-mudahan pada kuartal ke empat besok ekonomi akan membaik dan daya beli kembali melonjak. Kami tidak bisa berharap lebih. Dengan melihat kondisi seperti ini, maka kami akan melakukan koreksi target. Perkiraan kami, jika penjualan bisa mencapai seperti tahun lalu itu sudah baik karena untuk tumbuh sebesar 5% saja masih sulit terealisasi,” ungkapnya panjang lebar.

Terkait jumlah perusahaan ritel yang ada di Jatim, ia mengatakan masih belum ada penambahan. Untuk penambahan minimarket masih terkendala perijinan. Sedangkan untuk supermarket atau hypermarket, sebagian masih menunggu mall yang akan kembali buka dan supermarket atau hypermarket berdiri sendiri masih kesulitan mencari lokasi karena tingginya harga tanah. (kmf/wh)