Penjualan Migas Capai Rp 566 T

Penjualan Migas Capai Rp 566 T

Sepanjang 2013 lalu,   hasil produksi dan penjualan Minyak dan Gas (Migas) mencapai 56,263 Miliar USD atau  sekitar Ro 56,623 triliun.  Total penjualan itu berdasar patokan harga MinyaIndonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yakni sebesar 105,9 USD per barel.

“Dari total penjualan USD 56,623 miliar, dipotong untuk cost recovery sebesar USD 15,731 miliar,” ujar Plt Harian Satruan Kerja Pelaksanaan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SSK Migas) Johanes Widjonarko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/2/2014).

Widjonarko menambahkan, kemudian sisanya harus dipotong kembali untuk bagian kontraktor/net contractor share atau bagian perusahaan minyak yang memproduksi migas sebesar USD 9,524 miliar. “Jadi bagian negara dari penjualan minyak dan gas bumi mencapai USD 31,368 miliar,” ucapnya.

Hasil penjualan migasyang disetorkan ke kas negara  pada 2013 ini turun jauh dibandingkan 2012 yang mencapai USD 35,082 miliar, dan pada 2011 yang mencapai USD 35,798 miliar.

Sementara itu, upaya mengatasi ketergantungan minyak dari negara lain,  Menko Perekonomian Hatta Radjasa  menegaskan pemerintah akan membangun kilang  minyak. “Kita bangun saja nanti kilang, memang rencana kita mau bangun kilang, memang sedang dalam rencananya ESDM untuk dibangun,” ujar Hatta.

Pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo memang telah ke Singapura untuk bertemu dengan sejumlah investor dan menawarkan proyek pembangunan kilang BBM jenis pertamax di Indonesia.

Hatta mengatakan, pemerintah menjanjikan insentif pajak berupa tax holiday kepada investor yang mau membangun kilang minyak di Indonesia.

Lahan seluas 700 hektar sedang disiapkan di Bontang, Kalimantan Timur. Meski ada kilang baru, bukan berarti Indonesia setop impor minyak.

Memang, produksi minyak Indonesia saat ini hanya sekitar 800 ribu barel per hari, dari kebutuhan konsumsi BBM lebih dari 1 juta barel per hari. Sehingga harus ada impor minyak, namun impor dalam bentuk BBM akan berkurang.

Kilang dengan kapasitas 300 ribu barel per hari akan dibangun di Bontang, Kalimantan Timur. Targetnya kilang tersebut dapat beroperasi pada tahun 2018. Selain itu, Bambang menyatakan Pertamina juga akan melakukan peningkatan kapasitas kilang.

Seperti diketahui, dari data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total USD 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah USD 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton. (ram)