Penjara dan Cinta

Penjara dan Cinta

Suwandono

*) Suwandono

Dulu, ketika si cantik Anggie, Miranda Gultom, dan Hartati Moerdaya Miranda masuk penjara, media massa seperti mendapat menu istimewa. Semua menyajikannya sebagai hidangan utama. Sajian warta itu langsung dilahap habis-habisan oleh masyarakat. Saya pun terpengaruh, tulisan ini ikut-ikutan membahas penjara. Namun, jenis penjara yang berbeda. Penjara Jiwa.

Lho, apa ada penjara jiwa? Ya, ada. Hanya saja, acap dilupakan. Bahkan, banyak orang tidak sadar telah menghuninya bertahun-tahun. Mengapa bisa demikian? Karena mereka hanya mendefinisikan penjara secara fisik. Saya mengartikan penjara sebagai situasi apa pun di mana saya tidak ingin berada di dalamnya. Ketika Anda tidak ingin berada di suatu tempat, di mana pun itu, senyaman apa pun, sejatinya Anda sudah berada dalam penjara.

Bila Anda bekerja di suatu institusi/perusahaan yang tidak sesuai dengan keinginan, selalu merasa tidak nyaman dan mengeluhkan terlalu banyak hal, berarti Anda berada dalam penjara. Jika berada dalam suatu hubungan yang tidak diinginkan, berarti kita telah terpenjara. Bila sedang sakit dan terperangkap di dalam tubuh menyakitkan yang tidak kita inginkan, itu pun penjara buat kita.

Keadaan macam itu dialami kawan saya lebih dari sepuluh tahun. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Saya sampai mblenger mendengar keluhannya. Gaji rendah, pimpinan otoriter dan kurang manusiawi, target kerja kelewat tinggi, tidak ada bonus dan penghargaan prestasi, jenjang karir tak jelas, dan masih panjang lagi daftar keluhannya. Keadaan macam itu tak ubahnya penjara jiwa. Mungkin ada ribuan atau bahkan jutaan orang berada dalam keadaan seperti sahabat saya itu. Namun, mereka terlalu silau dengan keluhan hingga tak bisa melihat pintu keluar yang ada di depannya. Padahal pintunya tak pernah tertutup, mereka bisa keluar kapan saja bila mereka mau.

Saya juga punya kolega yang berkarier di TNI. Ia lulusan Akabri tahun 1983, saat ini berpangkat Kolonel. Banyak rekan seangkatannya yang sudah menyandang bintang di pundak. Bahkan ada yang sudah bintang tiga (Letnan Jenderal). Ia telah melakukan banyak upaya agar bisa menggapai bintang. Namun, bintang pangkat itu tak jua turun. Karena persoalan pangkat Jenderal itu tergantung keputusan Presiden. Kolega itu tak suka dengan keadaannya, batinnya tak tenang sebelum bintang hinggap di pundak. Selama menunggu turunnya bintang, ia tak ubahnya berada dalam kungkungan penjara.

Beberapa tahun lalu, Saya juga terjerembab di penjara jiwa. Ketika pertumbuhan bisnis stagnant, saat kecewa dengan perkembangan keadaan. Saya bersyukur bisa lepas, meski tak tertutup kemungkinan terpenjara lagi karena ritme kehidupan yang tidak pasti serta jiwa muda saya yang masih suka bergejolak. Bagaimana cara saya bebas dari penjara jiwa? Saya berusaha menerima keadaan. Menyimpulkan bahwa keadaan yang tengah saya alami adalah keadaan yang baik. Menanamkan pemahaman macam itu memang butuh waktu. Tidak serta merta bisa menerimanya langsung. Saat saya bisa menghayatinya, batin terasa lebih adem. Otak pun bisa lebih jernih. Dunia terasa lebih indah.

Apakah proses keluar dari penjara itu berlawanan dengan konsep motivasi? Tidak. Menerima keadaan dan bersyukur itu sifatnya subyektif. Semacam obat penenteram batin. Sebagai upaya menghindar dari jurang kekecewaan. Saya tetap termotivasi untuk meraih pencapaian lebih baik karena punya cinta.

Saya cinta anak, keluarga, pegawai, sahabat, lingkungan, dan seterusnya. Rasa cinta itulah yang selalu membakar semangat saya. Cinta membawa konsekwensi ingin memberi yang terbaik. Saya ingin anak saya hidup mulia, ingin punya banyak pegawai yang bergaji tinggi, ingin menolong sahabat yang susah, ingin menebar kebajikan di lingkungan yang lebih luas, dan seterusnya. Untuk mewujudkan semua itu, saya harus punya kemampuan lebih, uang lebih, perhatian lebih, waktu lebih, dan lebih-lebih lainnya. Tuntutan bisa punya kelebihan itulah motivasi.

Cinta macam itu tentu dimiliki semua orang. Namun, mengapa banyak yang semangat kerjanya loyo? Mungkin kadar cintanya patut dipertanyakan. Seorang pegawai rendahan yang bergaji pas-pasan tentu akan berusaha memeras tenaga serta pikirannya untuk mencari penghasilan tambahan jika ia benar-benar cinta keluarganya. Ia tak akan mudah lelah dan loyo.

Saya pernah diskusi dengan sahabat karib yang amat santai melakoni hidup. Gajinya sebagai pegawai rendahan hanya cukup untuk hidup keluarganya dalam standar minimal. Meski demikian, ia mengaku amat mencintai keluarganya dan merasa sudah sangat bertanggung jawab karena memberikan seluruh gajinya untuk keluarga. Ia tidak merasa harus mencari penghasilan tambahan, tidak merasa harus memeras tenaganya lagi selepas jam dinas. Ia tersentak ketika saya sebut cintanya palsu. Wajahnya memerah karena tak terima saya vonis seperti itu.

“Kalau cintamu tidak palsu, tentu kamu akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa mengangkat derajat keluargamu,” ucap saya.

Saya masih ingat matanya melotot dan bibirnya gemetar saat itu. Namun, perlahan sorot ketegangannya mengendur karena paham bila saya hanya ingin memompa motivasinya. Diskusi kami pun akhirnya bisa konstruktif. Beberapa bulan kemudian, ia mengabarkan telah membuka usaha warung yang dikelola isterinya. Hal yang sebelumnya tak pernah ia fikirkan. Ia juga mengaku keadaan ekonomi keluarganya meningkat tajam.

Kasus itu menggambarkan bahwa sahabat saya itu awalnya sosok yang tidak terpenjara, bisa enjoy dengan keadaannya meski pas-pasan. Namun, bebas dari penjara jiwa saja tidak cukup. Harus punya cinta yang sejati. Gabungan antara bebas dari penjara jiwa dan kekuatan cinta akan menghasilkan kehidupan yang lebih indah. Apa pun hasil upaya maksimal kita memperbaiki kualitas hidup, jiwa tetap bisa tenang.

Bila pasangan Anda malas mencari nafkah, coba Anda vonis “cintanya palsu”, pasti akan langsung bersemangat. he.he.he.he. (*)

 

*) Pengusaha property dan penulis novel