Pengusaha Properti H. Bisri Ilyas Berpulang

Pengusaha Properti H. Bisri Ilyas Berpulang

H. Bisri Ilyas. foto dok keluarga

H. Bisri Ilyas, pengusaha properti ternama yang juga tokoh Muhammadiyah, berpulang, Jumat (24/6/2016) pukul 23.00, di Rumah Sakit Siloam Surabaya. Saat ini, jenazah disemayamkan di rumah duka, di Perumahan Rewwin, Sidoarjo.

Menurut Rahmat Ridhlo, salah seorang anaknya, jenazah akan dibawa ke rumah almarhum di Perumahan BP Wetan Gresik. Almarhum akan dimakamkan di tanah leluhurnya, Bungah, Gresik, Sabtu (25/6/2016) siang.

H. Bisri Ilyas yang menjadi pimpinan PT Bumi Lingga Pertiwi, dikenal sebagai pengusaha properti. Ia sukses membangun beberapa perumahan ternama. Di antaranya Gresik Kota Baru (GKB), Bhakti Pertiwi (BP) Kulon dan Wetan, Pondok Permata Suci, dan Perumahan Rewwin Sidoarjo.

Semasa hidup, pria kelahiran 23 Agustus 1936 ini, dikenal dermawan. Ia pernah menginfakkan 60 sertifikat untuk Muhammadiyah. Selain dermawan, H. Bisri Ilyas juga aktif di berbagai organisasi, antara lain menjadi Ketua PMI Gresik, Dewan Penyantun Unair, Unmuh Gresik, dan Pondok Modern Gontor.

“Beliau dikenal sebagai pengusaha jujur, dermawan, dan peduli pendidikan. Muhammadiyah Jawa Timur sangat kehilangan figur yang belum tergantikan tersebut. Semoga amal baiknya diterima di sisih Allah, dan kesalahannya diampuni,” tutur Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid, seperti dilansir di pwmu.co, situs resmi WM Jatim.

H. Bisri Ilyas dilahirkan di kota santri Gresik, 23 Agustus 1936. Suami Hj Noor Sa’adah itu dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang religius, khususnya yang berbasis tradisi NU. Orang tuanya adalah seorang pedagang kampung. Ayahnya meninggal dunia ketika Bisri masih kanak-kanak, sehingga hidup dan pendidikannya ditanggung oleh kakak tertuanya.

Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Gresik, ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Karena terkendala faktor ekonomi, H. Bisri Ilyas berhenti nyantri di Gontor dan kembali ke Gresik. Kakak tertuanya, yang menanggung biaya sekolahnya, tidak sanggup lagi membiayainya. Ia lalu mendaftar di SMA Airlangga Surabaya. Meski begitu, Bisri tergolong aktif dan sangat mencintai organisasi. Ia kemudian menemukan rumah organisasinya dalam Pelajar Islam Indonesia (PII). (wh)