Pengusaha Mamin Sayangkan Kenaikan Harga Elpiji

Pengusaha Mamin Sayangkan Kenaikan Harga Elpiji
Yapto Willy Sinatra

Kenaikan harga elpiji ukuran 12 kilo gram (kg) dirasa sangat memukul pelaku industri makanan. Pasalnya, pada saat ini, industri makanan di Jatim tengah bergairah.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Jatim Yapto Willy Sinatra kepada enciety.co usai mengisi acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/9/2014) pagi.

Menurut Yapto, secara umum produksi makanan di Jatim sedang bergairah. Kebutuhan impor makanan di Jawa Timur pun menurun. Awalnya impor makanan mencapai hingga 25 persen kini turun menjadi 15 persen per tahun.

“Hanya barang yang tidak bisa diproduksi di Indonesia seperti makanan kaleng dan lain sebagainya masih diimpor,” akunya.

Kata dia, karena pemerintah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan harga elpiji 12 kg dikhawatirkan akan berdampak pada lesunya produksinya.

“Sekarang masalahnya, pemerintah menaikan TDL per tiga bulan sekali. Ini ditambah kenaikan harga elpiji dan ada lagi rencana menaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) membuat kebingungan pengusaha-pengusaha,” bebernya.

Kebingungan ini dirasa Yapto lantaran pemerintah selalu mengubah ketetapan pemakaian bahan bakar bagi pelaku industri. “Kemarin, pemerintah menyarankan memakai gas sekarang naik juga. Sebelumnya pemerintah juga menyarankan agar menggunakan minyak tanah, listrik, solar, dan sekarang gas bumi. Saya jadi bingung,” resahnya.

Padahal, menurut dia, setiap kali produksi rata-rata para pelaku usaha menghabiskan 20 hingga 25 persen modal untuk kebutuhan bahan bakar.

“Kalau nilai modal untuk produksi terus meningkat otomatis keuntungan akan semakin sedikit. Karena pengusaha harus bersaing ke pasar,” ujarnya.

Meski demikian, diakuinya secara ekonomi, pelaku industri saat ini belum terimbas langsung akibat kenaikan harga elpiji 12 kg. “Belum ada dampaknya,” cetus Yapto.

Menurutnya, bisa saja dampak kenaikan elpiji ini akan merembet pada industri makanan secara mikro dan menengah beralih ke usaha lainnya.

“Anggota UMKM kami sekitar 6 ribu unit usaha. Bisa saja karena kenaikan elpiji mereka pindah ke sektor bisnis lainnya. Sedangkan untuk industri menengah dan besar tidak akan masalah karena bisa beralih ke bahan bakar lainnya,” tandasnya. (wh)