Pengusaha Indonesia Menikmati Perdagangan Bebas

Pengusaha Indonesia Menikmati Perdagangan Bebas
Djatmiko Bris Witjaksono, Direktur Kerjasama ASEAN Kemendag

 

Kekhawatiran akan dampak perdagangan bebas terhadap perekonomian Indonesia, ditampik Kementerian Perdagangan (Kemendag). Berbagai perjanjian perdagangan bebas yang diteken pemerintah Indonesia justru dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha nusantara.

“Ternyata, pengusaha Indonesia adalah salah satu pengusaha yang paling menikmati ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area). Saya garis bawahi ini,” ujar Direktur Kerjasama ASEAN Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono di Universitas Airlangga, Kamis (20/3/2014). Ia menyampaikannya saat Seminar Publik mengenai Dampak Free Trade Agreement (FTA) di Indonesia yang diadakan Centre For Strategic and International Studies (CSIS).

Menurut Djatmiko, keuntungan itu terlihat dari peningkatan penggunaan fasilitas FTA yang disediakan pemerintah. “Dulu, awal-awal baru 34 persen yang pakai FTA. Sekarang jadi 72 persen,” katanya.

FTA, lanjut dia, memberikan fasilitas berupa preferensi terhadap beberapa negara partner. Sektor investasi turut terkatrol dengan adanya FTA. Perkembangan investasi sepanjang 2010-2013 menunjukkan peningkatan.

“Pada tahun 2010, nilai investasi yang masuk sebesar USD 355 juta. Tahun 2013 menjadi USD 1,6 miliar. Ini kan fantastis,” tegas Djatmiko.

Dia juga menyatakan bahwa tujuan FTA adalah untuk meningkatkan perekonomian negara. Indikator yang dapat digunakan adalah indikator ekonomi makro atau Produk Domestik Bruto (PDB).

“Pada waktu awal bergabung ACFTA, PDB kita USD 57 juta. Terakhir datanya sebesar USD 355 juta alias naik 63 kali lipat. Jadi, kita menikmati juga,” ujarnya.

ACFTA dinilai memberikan dampak positif bagi pertumbuhan perekonomian bangsa. “Waktu krisis tahun 1998, ekonomi kita sampai minus 13,1 persen. Sekarang sudah mencapai 6,2 persen di tahun 2012. Begitu pula dengan inflasi Indonesia yang bisa kita jaga dengan bagus. Artinya progress kita sangat bagus,” tukasnya.

Djatmiko lantas menjelaskan, Indonesia jangan sampai menutup diri dari perdagangan bebas. Ia mencontohkan kota London di Inggris. “Sebanyak 5 persen penduduk London adalah orang Prancis. Mereka membuat London maju, karena orang-orang tersebut membawa peningkatan nilai ekonomi. Kotanya dipenuhi oleh ekspatriat. Begitu juga dengan Singapura. Kalau kita menutup diri, sayang sekali,” pungkasnya.(wh)