Pengusaha Desak Percepatan Konversi Gas

Pengusaha Desak Percepatan Konversi Gas

Asosiasi Pengusaha Compress Gas Natural Indonesia (APCNGI) mendesak diberlakukan konversi dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas. Desakan ini tidak lepas dari efisiensi harga dan masih banyaknya cadangan gas alam yang dimiliki Indoensia.

Selain itu juga untuk menyelamatkan ekologi dari pemanasan global akibat dari penggunaan BBM. Sementara penggunaan BBM saat ini masih tergantun dari subsidi yang dikeluarkan pemerintah sebesar Rp 194,9 trilun melalui APBN.

“Yang ingin kita tekankan saat ini adalah masalah efisiensi harga dan mengurangi ketergantungan subsidi BBM,” kata pengusaha yang juga Ketua APCNGI, Robbi R.Sukardi, saat dijumpai pada sosialisasi dan kampanye penggunaan BBG di City of Tomorrow, kemarin (15/4/2014).

Dia menambahkan, bila penggunaan BBG relatif lebih murah dibanding BBM. Meski nilai efisiensi jarak tempuh sama, tetapi dari sisi harga bisa ditekan. Untuk satu Liter Setara Premium (LSP) dipatok Rp 4.100 sedang BBM bersubsidi mencapai Rp 6.500. Selain itu, Research Octane Number mencapai 120 relatif ramah lingkungan dibanding premium, pertamax dan pertamax plus.

Pihak APCNGI hingga 2014 ini telah menyediakan 16 mother stasion (SPBG). Beberapa mother station yang ada di Tuban (3 unit), Gresik (4), Surabaya (4), Sidoarjo (6), Pasuruan (4), dan Mojkerto (2). Ke depan asosiasi pengusaha ini akan menambah sekitar 32 unit di Jatim sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan BBG bagi kendaraan bermotor.

Robbi mengakui banyak kendala yang dikeluhkan masyarakat terkait konverter kit yang masih mahal. “Tidak perlu khawatir, kami sediakan bundling bagi pembeli BBG. Kami pastikan aman karena tidak merusak mesin kendaraan,” tegasnya.

Robbi menerangkan sistem bundling itu menyediakan konvertir kit. Masyarakat cukup membeli BBG senilai Rp 5.500 selama satu tahun sudah mendapat konvertir kit. Pada tahun kedua masyarakat sudah bisa membeli dengan harga BBG normal.

Terpisah, Presiden Direktur PT Gagas Energi Indoensia (anak perusahaan PT PGN), Danny Praditya menyebut tahun lalu kontribusi CGN untuk kebutuhan transportasi masih dibawah 1 persen. Padahal alokasi yangdisediakan mencapai 1 juta MMSCFD atau setara dengan 100 kiloliter per bulan.

Tentunya kita akan melakukan antisipasi apabila terjadi lonjakan. Kami berharap tahun ini ada kontribusi yang lebih besar, karena penyediaan gas masih cukup besar,” tutupnya. Pihaknya juga menyiapkan dua mother station di dua tempat di Surabaya untuk kebutuhan infrastruktur. (wh)