Pengusaha Khawatir Daya Saing Industri Akibat Kenaikan Listrik

Pengusaha Khawatir Daya Saing Industri Akibat Kenaikan Listrik
Dedy Suhajadi, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur

Kenaikan tarif listrik untuk kategori I3 terbuka dan I4 per dua bulan sekali per-1 Mei menyisakan kekhawatiran. Pasalnya, pengusaha khawatir daya saing industri dalam negeri semakin tergerus dan berdampak negatif pada penurunan kinerja industri.

Kekhawatiran ini cukup masuk lantaran data yang disampaikan BPS pada kuartal pertama tahun ini mengalami pelambatan. Jika dibanding pada triwulan IV 2013, kinerja industri manufaktur besar di Jatim mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 4,83 persen.

Pada akhir April silam KADIN melayangkan surat untuk dilakukan peninjauan ulang terhadap tarif listrik industri. Perubahan tersebut untuk kelompok I3 kenaikannya 38,9 persen, dan perubahan sebesar 64,8 untuk kategori I4 per 1 Mei 2014.

“Kami akan ajukan gugatan ke Mahkamah Agung,” tegas Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Dedy Suhajadi di Surabaya. Langkah ini diambil setelah surat ke Kementerian ESDM melalui Kadin Pusat tidak mendapat respons.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, industri manufaktur sedang dan besar yang mengalami penurunan kinerja di triwulan I/2014 diantaranya adalah industri farmasi dan obat-obatan turun 16,7 persen, otomotif turun 15,4 persen, makanan turun 12,2 persen, pengolahan tembakau turun 10,1 persen.

Sementara untuk industri pakaian jadi turun 5,5 persen, karet dan barang dari karet turun 5,2 persen, industri kayu dan barang dari kayu turun 3,5 persen dan industri bahan kimia turun 2,7 persen. BPS melansir penurunan ini disebabkan kinerja awal tahun.

Jika dibanding triwulan yang sama pada tahun lalu, kinerja industri besar dan sedang di Jatim masih menunjukkan pergerakan positif, naik 11,23 persen. Penurunan tertinggi terjadi pada industri kayu dan barang dari kayu serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya yang mencapai 25,5 persen, disusul industri makanan naik 16,88 persen.

Sedangkan industri karet dan barang dari karet dan plastik naik 16,77 persen, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional naik 14,94 persen, industri pakaian jadi naik 9,56 persen dan industri kimia dan barang dari bahan kimia naik 6,51 persen.

“Saat ini saja sudah terjadi penurunan. Bagaimana geliat industri di Jatim setelah tarif tersebut benar-benar diberlakukan. Kami tidak ingin industri makin terbenam,” lanjut Dedy. KADIN Jatim optimistis gugatannya ke MK akan menemui hasil. (wh)