Pengurukan Alur Pelayaran Barat Surabaya Ditarget Tuntas Maret 2015

 

Pengurukan Alur Pelayaran Barat Surabaya Ditarget Tuntas Maret 2015

Pengerukan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dengan anggaran Rp 700 miliar diharapkan bisa memperlancar jalan kapal-kapal besar. PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) mentargetkan pengerukan tuntas pada Maret 2015.

Dengan catatan, relokasi pipa milik PT Pertamina Hulu Energi direlokasi sesuai dengan jadwal. Semabi menunggu relokasi tersebut, Pelindo III selaku pemenang tender pengelolaan akan melakukan revitalisasi atau pengerukan pada sisi yang berbeda.

Pimpinan proyek (Pimpro) Pengerukan APBS Hendiek Eko Setiantono mengatakan, proses pengerukan akan dilakukan 21 Juli 2014 dan berakhir Maret 2015. Dengan begitu, proses pengerjaan akan berjalan selama 8 bulan. “Produktifitas pengerukan kapal sebanyak 30.000 meter kubik per hari,” katanya.

Untuk kecepatan penyelesaian pengerukan, Hendiek mengaku semua tergantung pada jarak lokasi pembuangan. Jika jarak pembuangan dekat, maka pengerjaan akan semakin cepat, tetapi jika jarak pembuangan hasil pengerukan jauh maka prosesnya pun lama.”Tergantung jarak pembuangan, semakin dekat akan semakin cepat proses pengerjaannya,” papar dia.

Pengerukan akan dilakukan kapal Volvox Terranova. Pengerukan ini akan ditangani oleh kontraktor asal Belanda yakni Van Oord Dredging and Marine contractors BV (Van Oord) yang telah melakukan kontrak kerjasama dengan Pelindo.

“Semua izin yang dibutuhkan sudah lengkap, pengerukan segera dimulai” kata Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto kemarin. Edi menuturkan, persiapan pengerukan sudah dilakukan sejak lama, kapal yang didatangkan dari Belanda tinggal beroperasi.

Namun persoalannya, pipa yang melintas diarea APBS masih belum diambil oleh PHE WMO (Kodeco). Padahal, mereka berjanji akan mengambil secepatnya. Untuk mengantisipasi keberadaan pipa, Pelindo meminta kepada kontraktor untuk mengerjakan alur di APBS dari dua sisi.

Hal ini dilakukan supaya pengerjaan yang dilakukan tidak terlambat. Pasalnya, sesuai dengan kesepakatan Maret 2015 kapal-kapal besar sudah mulai masuk ke Tanjung Perak melewati APBS.

“Banyak perusahaan yang siap melewati APBS. Mereka sudah siap mulai memanfaatkan APBS Maret 2015 mendatang. Kami telah melakukan sosialisasi di luar negeri,” ujarnya.

Jika proses pengerukan terhambat, Edi menegaskan kerugian yang dialami akibat tidak memanfaatkan kapal sangat besar. Diperkirakan, kerugian yang dialami bisa mencapai Rp1 miliar perhari. APBS lanjut dia, sangat bermanfaat bagi kemajuan ekononi Indonesia khususnya di Jatim. (wh)