Pengungsi Kelud Mulai Alami Tekanan Mental

Pengungsi Kelud Mulai Alami Tekanan Mental
Relawan kesehatan memeriksa kesehatan pengungsi.umar alif/enciety.co

Puluhan dari sekitar 1.000 pengungsi yang menempati gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar mengalami tekanan mental. Para petugas kesehatan yang di tempatkan di pengungsian harus ekstra sabar untuk membantu memulihkan kesehatan para pengungsi.

Dr Hadi Siswoyo ketua tim relawan kesehatan dari Kabupaten Blitar mengatakan hingga hari ini, para pengungsi banyak mendatangi pos kesehatan untuk memeriksakan kesehatannya.

“Dari data yang ada, terdapat puluhan pengungsi yang mengalami stress akibat belum bisa kembali pulang ke rumahnya,” tegasnya.

Selain penyakit strees, pengungsi juga mengeluhkan berbagai macam penyakit seperti magh, pusing dan iInfeksi Saluran Penyakit Akut (ISPA).

Ditambahkan Hadi, relawan kesehatan berusaha mengatasi berbagai macam penyakit tersebut dengan pemberian obat dan vitamin.

“Tetapi kalau penyakit stres, kita bisa berikan saran untuk selalu mendekatkan diri dan pasrah kepada sang Pencipta untuk menghibur hati mereka,” ujarnya.

Menurut dia, untuk persediaan obat-obatan dan dokter diperkirakan sudah cukup dan pengiriman berasal dari Kabupaten Blitar.

“Bila keadaan pengungsi parah kami sudah siapkan ambulans juga untuk membawa pasien ke rumah sakit,” pungkasnya.

Sholikin Paluh (40), salah satu pengungsi warga Dusun Gambar Anyar, Desa Sumbersari, Nglegok mengatakan dirinya khawatir bila tidak segera pulang keadaan rumahnya akan terus berantakan.

“Nanti siapa yang mengurusi ternak kami, Mas,” kata Sholikin sambil menunduk.

Selain memikirkan hewan peliharaannya, Sholikin juga mengaku stress akibat terlalu jenuh di pengungsian. Dirinya kini tidak bisa lagi mengembalakan ternaknya untuk mencari rumput.

Senada dengan Sholikin, salah satu pengungsi lainnya yang bernama Wiji Astutik dari Kampung Anyar Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar juga mengeluhkan dirinya yang berada di pengungsian.

“Bingung lama disini ngapain juga. Mbok kita diperbolehkan pulang. Kan sudah reda aktifitas Gunung Kelud,” katanya. (wh)