Penggunaan Energi Baru Terbarukan Perlu Intervensi Pemerintah

Penggunaan Energi Baru Terbarukan Perlu Intervensi Pemerintah

Seminar Ketahanan Energi bertajuk “Dinamika Energi Global dan Ketahanan Energi: Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan” di UKMS, Selasa (14/3/2017)

EBT memang harus dikembangkan ke depannya. Intervensi dari pemerintah sangat penting. “Karena jika EBT bersaing dengan non EBT seperti bensin, batubara, atau pipa gas yang sudah jelas ada lebih dulu pasti penggunaan EBT kalah. Kalau market EBT tidak jalan maka harus ada intervensi ekonomi seperti penerapan kebijakan harga instrumen ekonomi yang efektif dan non ekonomi seperti penerapan pajak,” tegas Purnomo.

Dwi Harry dari Dewan Energi Nasional, menegaskan potensi EBT yang saat ini masih sangat sedikit dilirik baik pemerintah maupun lembaga pendidikan untuk digunakan.

“Padahal total Energi yang di dapat dari PLTA, PLTM/ H, tenaga surya, angin, energi laut, dan panas bumi yang dihasilkan sebesar 443,2 GW, namun hanya 8,80 GW saja yang digunakan dan itu hanya 2 persen dari potensi yang ada,” tandas Dwi Hary.

Berbeda dengan Purnomo dan Dwi Harry yang mengangkat potensi EBT, Herman Darnel Ketua Dewan Pakar METI, Ketua dan Pendiri ICESS mengangkat potensi Energi Terbarukan (ET). Melaui materi Prioritas Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia, ia menyatakan bahwa kunci berkembangnya ET adalah tersedianya kandidat proyek siap bangun yang cukup dan regulasi harga yang menarik.

Hal ini bisa dikembangkan melalui strategi pengembangan sumber ET besar yang diintegrasikan dan di sinergikan dengan pengembangan industri. Ia memberi contoh proyek hidro dan geothermal yang bisa dimanfaatkan untuk smelter.