Pengetahuan Masyarakat tentang Investasi Masih Minim

Pengetahuan Masyarakat tentang Investasi Masih Minim
(kiri) Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya, Nur Harjantie berdialog bersama Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya.

 

Investasi ternyata masih dipahami mayoritas masyarakat dengan bermain saham. Karenanya, tak jarang dari mereka yang mengaku merugi ratusan juta karena tertipu dengan investasi bodong. Banyak juga masyarakat yang berharap dapat meraup keuntungan secara instan melalui ‘permainan’ saham tersebut.

Hal itu mendapat perhatian Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya, Nur Harjantie. “Yang perlu diingat, investasi yang aman ialah jika arahnya ke pasar modal,” katanya.

Maka dari itu, investasi pasar modal tidak ada yang menjanjikan jumlah keuntungan yang pasti. Dari sanalah masyarakat perlu berpikir lebih cerdik. “Jangan berpikir instan saja,” imbuhnya.

Dia menegaskan, masyarakat seharusnya melihat keamanan berinvestasi di pasar modal daripada terjebak pada investasi bodong.

Nur mengungkapkan, investasi saham berarti membeli prospek perusahaan. “Jadi jelas investasinya ke perusahaan mana dan calon investor dapat dengan mudah memantau kondisi perekonomian Indonesia,” jelasnya.

Untuk meminimalisir risiko dari kemungkinan penggunaan dana investasi oleh broker, pembukaan rekening efek telah dilakukan secara terpisah sejak 2 tahun lalu. “Ketika calon investor membuka rekening efek, ada pemisahan kepemilikan antara investor dengan broker, supaya per investor dapat akses langsung saldo efeknya. Sehingga jika broker pailit, bisa terhindarkan.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya melihat fenomena investasi bodong tersebut akibat pemahaman masyarakat yang belum baik. “Pemahaman masyarakat kita tentang finance dan banking, masih sangat dasar. Orang-orang masih belum ngerti betul,” ujarnya.

Mayoritas masih mengharapkan keuntungan secara fisik, misalnya dengan menaruh deposito di bank. Namun, mereka tidak tahu dampak inflasi selanjutnya. Maka, sarannya, jangan semua didepositokan.

Kresnayana menyebut, investasi di pasar modal adalah pilihan yang menjanjikan. Agar kelebihan dana masyarakat aman dan lebih dinamis untuk keperluan masa mendatang. Apalagi, jaminan keamanan rekening efek kini diperkuat.

“Nah, karena keputusan harus diambil investornya, si investor harus mengerti betul prinsip-prinsip investasi supaya tidak terjadi cerita rumah habis gara-gara berinvestasi,” tegasnya.

Kini, pasar Indonesia itu sudah dianggap sebagai pasar yang potensial di mata dunia. “Dari 483 perusahaan di BEI, sebanyak 60 persen investornya adalah asing. Mereka melihat perusahaan-perusahaan Indonesia sebagian besar adalah perusahaan yang sehat,” paparnya.

Kresna berharap, meningkatnya kesadaran berinvestasi masyarakat di pasar modal bisa membantu perusahaan-perusahaan lokal untuk melakukan ekspansi usaha.(wh)