Pengembangan Startup Surabaya Gunakan ABCGMT, Apa Itu?

Pengembangan Startup Surabaya Gunakan ABCGMT, Apa Itu?

Audrey Maximillian Herli, Leonika Sari Njoto Boedioetomo, dan Don Rozano. foto: arya wiraraja/enciety.co

Poin penting dari keberhasilan startup (perusahaan rintisan) adalah harus sustain atau menjaga  keberlangsungan usha. Karena startup bukan hanya butuh growth (tumbuh), lalu bubble (gelembung), atau hanya mengejar value (nilai).

“Untuk menjadi sustain, stratup harus punya basic dan basis yang kuat. Basicnya adalah social problem. Lalu setelah itu, bagaimana keberadaan startup dapat menjadi solusi dari social problem. Nah, kalau startup ini menjadi sebuah solusi dari social problem, usaha ini akan terus dibutuhkan,” tegas Don Rozano, General Manager Enciety Business Consult, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (26/7/2019).

Dalam acara itu hadir dua pelaku startup Surabaya, yakni Audrey Maximillian Herli (Co-Founder Riliv) dan Leonika Sari Njoto Boedioetomo (Founder Reblood),

Don menjelaskan, Surabaya memang sedikit terlambat memulai inkubasi startup dibandingkan kota-kota lain seperti Jakarta dan Bandung. Ukurannya keduanya telah punya startup unicorn. Di mana startup  memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu startup, bukan sekadar pendanaan yang diraih dari investor) lebih dari USD 1 miliar (setara Rp 14 triliun).

“Namun, itu bukan sebuah ukuran startup. Surabaya mulai sekitar 9 November 2015 di Suara Surabaya Center. Yang terpenting dari sebuah stratup adalah sustain atau keberlangsungan usaha yang dirintis. Kunci sukses menjadi pelaku startup ya konsisten. Seperti yang diungkap Pak Chairul Tanjung (Chairman and Founder of CT Corp), kalau jatuh ya bangkit lagi, begitu seterusnya hingga kegagalan itu bosen dengan kita,” terangnya.

Don menambahkan, di Surabaya proses pengembangan startup sangat berbeda dibanding di kota-kota lain di Indonesia. Pendekatan itu adalah ABCGMT.

“A itu akademisi, B itu business, C itu community, G itu Government, M itu media, lalu yang terakhir T yang dimaksud dengan teknologi,” urai Don.

Don juga mengatakan beda pelaku startup dengan pelaku usaha kecil menengah (UKM) adalah pada poin penerapan teknologi. Kalau UKM tumbuh 10 persen saja itu sudah sangat bagus. Namun, untuk startup, capaian yang mereka harus tumbuh 10 kali lipat. Ini karena startup memaksimalkan penerapan teknologi dalam segala proses usaha.

Menurut Don, Riliv dan Reblood merupakan dua startup yang menjadi social problem solving. Kedua startup ini telah meningkatkan value dan membuat beberapa investor tertarik masuk berinvestasi.

“Bisa dikatakan yang dilakukan kawan-kawan ini adalah cara pendekatan lama untuk membangun sebuah usaha. Namun, hal ini merupakan cara baru yang digunakan untuk menghadapi yang namanya disrupsi ekonomi,” jabar Don.

Sementara itu, Audrey Maximillian Herli mengatakan startup yang dirintisnya sejak 4 yang lalu hingga kini masih terus berkembang. Ada puluhan ribu kasus psikologi yang telah ditangani melalui aplikasi Riliv.

“Kurang lebih ada seratus ribu lebih member yang telah terdaftar dalam data base Riliv. Kami sangat bersyukur dapat membantu memecahkan permasalahan psikis yang dialami oleh masyarakat,” ucap dia.

Lain halnya dengan Leonika Sari Njoto Boedioetomo. Dia mengaku ada dua permasalahan yang menjadi fokusnya mengembangkan Reblood. Pertama, memecahkan permasalahan sosial dengan terus membantu meyediakan darah bagi masyarakat serta membangun bisnisnya supaya berkelanjutan. Kedua, menggugah masyarakat supaya menjalankan pola hidup sehat.

“Di aplikasi Reblood, kami ajak masyarakat hidup sehat dengan menambahkan fitur-fitur baru. Di antaranya mengukur kesehatan seseorang dengan pola aktivitas. Contohnya, berapa lama waktu yang butuhkan orang berolah raga tiap hari. Jadi saat ini kita tidak hanya ajak orang hidup sehat dengan donor darah saja,” tutur Leonika. (wh)