Pengembangan Industri Gula Dirintis di Pulau Madura

Pengembangan Industri Gula Dirintis di Pulau Madura
Menteri BUMN RIni Soemarno melakukan pemanenan tebu di Pamekasan, Pulau Madura

Pulau Madura mulai dilirik sebagai tempat pengembangan industri gula. Pengembangan tersebut didukung oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X), salah satu produsen gula yang merupakan bagian dari holding BUMN perkebunan.

Dalam beberapa tahun terakhir, PTPN X telah mengembangkan lahan tebu di Pulau Madura seluas lebih dari 1.000 hektare dan tahun ini diharapkan bisa berkembang menjadi 1.400 hektare. Berdasarkan hasil kajian Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), potensi lahan di Madura yang cocok untuk pengembangan tebu mencapai 124.000 hektare di empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dari sisi iklim, Madura juga cocok untuk pengembangan tebu. Suhu rata-rata untuk fase pertumbuhan tebu di Madura yang sebesar 26-27 derajat celcius masuk kriteria ”bagus” untuk tebu. Adapun suhu pada fase pematangan tebu di Madura yang mencapai 14 derajat celcius masuk kategori ”memuaskan”. Demikian pula untuk kriteria lain seperti kelembaban, tekstur tanah, pH tanah, dan sinar matahari juga dinilai cocok untuk lahan tebu.

Menteri BUMN Rini Soemarno sendiri telah meninjau secara langsung pengembangan lahan tebu di Madura, tepatnya di Kabupaten Pamekasan, Sabtu (12/9). Rini Soemarno mengatakan, dari hasil uji coba yang dilakukan beberapa BUMN di antaranya PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) diketahui bahwa Pulau Madura sangat potensial sebagai lahan pengembangan baru tanaman tebu.

”Seperti kita tahu, lahan di wilayah Pulau Jawa sudah cukup sulit untuk dikembangkan menjadi areal pertanian tebu karena berbagai faktor, seperti konversi lahan ke sektor properti. Potensi Pulau Madura masih tinggi untuk lahan tebu karena banyak lahan tidur yang bisa dikembangkan menjadi areal perkebunan tebu. Diharapkan nantinya dengan pengembangan lahan tebu di Pulau Madura ini swasembada gula bisa terwujud,”  kata Rini.

Menteri Rini mengatakan, saat ini butuh kerja keras khususnya untuk meyakinkan masyarakat petani agar mau menanam tebu, mengingat komoditas tebu di Pulau Madura cenderung baru dibandingkan komoditas lain yang sudah cukup lama dikembangkan di Madura seperti jagung. Petani

perlu diyakinkan bahwa tebu mempunyai daya saing dan keuntungan ekonomis yang menjanjikan dibanding komoditas lain. Karena itu, dia meminta BUMN terus melakukan sinergi untuk menjadi Pulau Madura sebagai salah satu daerah penghasil tebu terbesar di Indonesia. Di antaranya dengan mengajak para petani tebu di Madura melihat kesuksesan petani tebu di daerah lain di Pulau Jawa.

”Saat ini rata-rata produksi lahan tebu di Pulau Madura baru sekitar 55 ton per hektar, karena masih ada kendala dalam pengairan. Jika nantinya BUMN mau berinvestasi untuk mengembangkan sumur dalam untuk pengairan, maka produksi bisa ditingkatkan menjadi 80 sampai 100 ton tebu per hektare sebagaimana produktivitas di Jawa. Jika itu sudah terjadi maka secara otomatis, tanpa bantuan dana pemerintah pun petani akan bisa mendapatkan pendanaan, terutama kami akan dorong melalui mekanisme Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dari bank-bnak BUMN,” papar Rini.

Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan, meski masih banyak permasalahan dalam pengembangan lahan tebu di wilayah Pulau Madura, pihaknya akan terus pada rencana pengembangan pabrik gula di Pulau Madura. Apalagi, untuk rendemen (kadar gula dalam tebu) di Madura sudah bisa menyentuh level yang cukup bagus, yaitu 7-8 persen.

”Potensi lahan tebu di Madura cukup luas, sehingga bisa dikembangkan menjadi industri gula. Artinya, pabrik gula dimungkinkan berdiri di Madura. Selama ini, tebu dari lahan yang kami kembangkan di Madura dikirim ke pabrik gula PTPN X yang ada di Sidoarjo untuk diolah menjadi gula. Ke depan, jika pengembangan lahan di Madura ini terus bertambah, kami akan membangun pabrik gula terintegrasi. Rencana ini sudah mendapat dukungan dari Kementerian BUMN,” ujar Subiyono.

Jika pengembangan lahan sudah mencapai 5.000 hektare, rintisan pabrik gula bisa dibangun dengan kapasitas giling 3.000 ton tebu per hari (TTH) yang bisa dikembangkan ke kapasitas 5.000 dan 7.5000 TTH.

Madura menjadi pilihan karena upaya melakukan ekstensifikasi di Pulau Jawa sudah cukup sulit dilakukan karena konversi lahan ke sektor nonpertanian. Padahal, untuk mencapai swasembada gula, kebutuhan penambahan lahan dan pabrik gula adalah mutlak.

Subiyono mengakui, yang masih menjadi kendala berdasarkan kajian adalah pada potensi irigasi karena lahan yang dikembangkan hanya mengandalkan curah hujan, sehingga membutuhkan investasi infrastruktur sumberdaya air. Menteri BUMN Rini Soemarno sendiri telah memberi bantuan pengembangan sumur bor untuk petani tebu di Kabupaten Pamekasan.

”Ke depan, perlu dikembangkan sumur dalam serta dam atau waduk agar sumberdaya air bisa lancar ke lahan tebu,” jelasnya. (wh)