Pengamat: Pasar Tunggu Sosok Pemimpin Tegas

Pengamat: Pasar Tunggu Sosok Pemimpin Tegas

 

Sosok pemimpin yang tegas dan cepat mengambil keputusan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar modal lebih tinggi. Namun, perubahan yang berkualitas dapat terjadi jika ada perubahan fundamental perekonomian domestik yang mendorong pertumbuhan itu.

”Perekonomian yang lebih baik terwujud jika pemimpin bisa mengambil keputusan dan tidak telat mengambil keputusan,” kata pengamat pasar modal yang juga Dekan Sampoerna School of Business USBI Adler Manurung.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat naik 152,48 poin atau sekitar 3,23 persen ke level 4.878 di akhir perdagangan Jumat. Level itu merupakan yang tertinggi yang diraih IHSG tahun ini. Penguatan juga terjadi di rupiah terhadap dollar AS. Rupiah sudah menguat 2,2 persen sepanjang bulan ini dan 6,7 persen sepanjang tahun ini.

Indeks yang sejak awal terbenam di zona merah hingga 1 persen berbalik arah menguat begitu Gubernur DKI Jakarta.

Joko Widodo menyatakan mendapat mandat dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden dari partai itu. Pembalikan arah IHSG terjadi di tengah melemahnya bursa regional akibat sentimen pelemahan data perekonomian China dan menegangnya politik di Ukraina. Sentimen itu ikut menekan bursa saham di Eropa dan Wall Street, Amerika Serikat, dalam menutup perdagangan pekan lalu.

Menurut Adler, pelaku pasar juga mendorong kenaikan harga menjelang penutupan pekan lalu untuk mengajak semua pihak berinvestasi di bursa saham. Investor jangka panjang sudah tepat melakukan pembelian. Namun, trader kecil harus lebih berhati-hati karena ada kemungkinan terjadi aksi ambil untung dalam dua hari pertama awal pekan ini.

Sepanjang pekan kemarin, investor asing masih tercatat melakukan pembelian bersih Rp 8,18 triliun atau naik signifikan dari pekan sebelumnya Rp 294,83 miliar. Jika dihitung sejak awal tahun, catatan pembelian bersih investor asing mencapai Rp 17,81 triliun.

Namun, ekonom Aviliani mengingatkan, respons positif atas IHSG belum menjamin kenaikan terus indeks. Penyebab utamanya, hingga kini secara fundamental perekonomian pasar domestik belum banyak terdapat perbaikan.

”Misalnya menurunkan subsidi bahan bakar minyak agar kapasitas fiskal Indonesia ada ruang geraknya. Juga masih bergantung pada kebijakan pemerintah mampu atau tidak mengundang investasi, meningkatkan ekspor, termasuk kesempatan kerja,” kata Aviliani.

Efek pencalonan Joko Widodo bagi pasar, menurut Adler, rawan terjadi jika perolehan suara PDIP dalam pemilihan umum legislatif tidak mencapai 20 persen.(kps/bh)