Pengadilan Turki Batalkan Pemblokiran Twitter

Pengadilan Turki Batalkan Pemblokiran Twitter

Warga Turki kini kembali dapat mengakses akun Twitter mereka. Sebab, sebuah pengadilan telah membatalkan keputusan yang dibuat oleh pemerintah Turki untuk memblokir Twitter di negaranya.

Langkah ini dilakukan enam hari setelah otoritas telekomunikasi Ankara memblokir akses ke situs jaringan sosial yang digunakan untuk menyebarkan rekaman audio dan dokumen percakapan kontroversial antara Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dan putranya.

Dalam percakapan itu, Perdana Menteri Erdogan dan putranya diduga kuat tengah membicarakan cara menyembunyikan uang dalam jumlah besar. Itu setelah polisi melakukan penangkapan sejumah orang dekat Erdogan terkait kasus suap.

Pengadilan administratif akan menginformasikan keputusan ini kepada regulator komunikasi Turki, TIB. Dan diharapkan akses ke Twitter akan segera pulih dalam beberapa jam mendatang. Sementara itu, pemerintah Turki tampaknya akan menerima keputusan pengadilan.

“Jika pengadilan telah memutuskan, maka kami akan menerapkannya,” ujar Deputi Perdana Menteri, Bulent Arinc, kepada wartawan seperti dilansir AFP.

Keputusan pengadilan untuk mencabut larangan terhadap akses Twitter pun disambut baik oleh kelompok oposisi Turki. Emrehan Halici, Wakil Ketua Partai Republik Rakyat, yang merupakan oposisi utama Turki mengatakan bahwa rezim totaliter tidak mungkin membungkam teknologi.

“Hanya akan memalukan bangsa ini jika akses Twitter benar-benar ditutup. Lagipula, setelah larangan justru akan lebih banyak warga Turki yang menggunakan Twitter,” ujarnya.

Pada kenyataannya 10 juta pengguna Twitter di Turki memang berhasil mengakali larangan pemerintah itu. Mereka pun tetap menggunakan media sosial tersebut.

Pemerintah Turki menutup akses warga ke Twitter sejak 20 Maret lalu. Setelah Twitter mengabaikan empat perintah pengadilan untuk menghapus konten mengenai skandal korupsi yang dilakukan pemerintah. Saat itulah, Perdana Menteri Erdogan menyatakan akan memusnahkan media sosial itu.

Langkah Erdogan itu memicu kecaman dunia internasional dan menjadi noda bagi Erdogan dan partainya yang akan menghadapi pemilihan lokal pada Minggu 30 Maret 2014 mendatang. (bh)