Penerimaan Cukai Rokok Semester Pertama Merosot

 

Penerimaan Cukai Rokok Semester Pertama Merosot

Penerimaan cukai rokok di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Juanda mengalami penurunan yang cukup drastis. Setidaknya hingga semester pertama tahun ini baru Rp1,6 triliun yang terserap dari target tahun ini sebesar Rp 3,7 triliun.

Penurunan ini disebabkan perubahan pola konsumsi rokok dari sigaret kretek tangan (SKT) ke sigaret kretek mesin (SKM). Hal ini juga tercermin dari penurunan produksi sejumlah perusahaan rokok besar di Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto di bawah wilayah KPPBC Juanda.

Kepala Seksi Pabean dan Cukai Iwan Kurniawan melalui Kepala Sub Seksi Layanan Informasi Imam Subakti menyebutkan penerimaan cukai semester pertama tahun ini menurun sekitar 25 persen. Angka tersebut sudah termasuk cukai rokok dan minuman beralkohol (mikol).

Untuk cukai rokok semeester pertama tahun ini realisasinya Rp 1,6 triliun, sedangkan realisasi mikol semester pertama tercapai Rp 450 miliar. Bila ditotal tahun ini cukai terserap kurang lebih Rp 2 triliun,” ungkapnya saat dijumpai di KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda, Kamis (10/7/2014).

Disebutkan Imam, realisasi semester pertama tahun lalu, total cukai yang terserap Rp 2,5 triliun dari kedua barang kena cukai tersebut. Untuk dua jenis barang kena cukai tersebut, mikol tergolong stabil penyerapannya, dibanding cukai rokok.

KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda juga memprediksi pada tahun-tahun mendatang, cukai rokok akan semakin menurun. Hal ini tidak lepas dari Peraturan Menteri Kesehatan tentang pencatuman gambar menyeramkan di bungkus rokok.

“Kita berada pada sisi dilematis. Dimana negara menutunt pendapatan dari cukai rokok, sementara Kementerian Kesehatan menghimbau tentang bahaya rokok. Tentu ini berdampak besar pada cukai rokok,” ulasnya.

Beredarnya bungkus rokok bergambar menyeramkan ini telah disosialisasikan KPPBC Juanda sebelum 24 Juni. Sebab pada tanggal tersebut peredaran rokok harsu disertai dengan gambar menyeramkan. KPPBC Juanda menegaskan pengawasannya berada di tangan BPOM.

Sejauh ini di wilayah KPPBC Juanda sendiri terdapat 62 industri rokok. Tetapi baru tiga industri besar yang diperkirakan dampak, Sampoerna, PT Gelora Djaja (Wismilak) dan Bokormas, selebihnya adalah home industry. (wh)