Peneliti LIPI: Fenomena Ekonomi Mirip Zaman Kolonial

Peneliti LIPI: Fenomena Ekonomi Mirip Zaman KolonialLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan perekonomian Indonesia masih didominasi sektor ekstraktif seperti pertambangan minyak dan gas bumi dan masih mengabaikan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan riset teknologi.

Kurang berkembangnya inovasi dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia, antara lain karena pembangunan di Tanah Air masih berdasarkan sumber daya alam, terutama perdagangan di sektor minyak bumi dan gas.

“Indonesia masih belum banyak meningkatkan kapasitas SDM dan riset. Ini cukup sedih karena berbeda dengan kondisi seperti di Korea Selatan dan China,” kata Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Maxensius Tri Sambodo dalam acara konferensi pers di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Fenomena tersebut, lanjutnya, merupakan hal yang sangat ironis karena mirip dengan yang menjadi pola perekonomian pada zaman kolonial Belanda yang bergantung kepada pengeksploitasian sumber daya alam yang terdapat di Indonesia.

“Ini sama dengan zaman kolonial yang ekstraktif,” ujarnya.

Maxensius juga menyorot kontribusi ekspor sektor industri yang melambat dan kontribusi ekspor jasa yang flat atau stagnan, padahal kontribusi ekspor untuk pertambangan meningkat.

Sedangkan untuk tren impor barang, ujar dia, terdapat sinyal positif antara lain karena terdapat kecenderungan peningkatan dalam impor barang modal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan penguatan sumber daya manusia yang berbasis inovasi pada teknologi dapat mendorong Indonesia lepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah (“middle income trap”) dan menjadi negara maju berpendapatan tinggi.

“Kita harus menekankan peran inovasi dan teknologi, untuk melahirkan keunggulan komparatif yang baik,” kata Menkeu saat membuka Seminar Internasional “Avoiding the Middle Income Trap” di Nusa Dua, Bali, Kamis lalu.

Chatib menjelaskan Indonesia yang tercatat telah masuk sebagai negara kelas menengah pada awal 1990-an, tidak akan menjadi negara maju apabila bergantung dari produksi sumber daya alam dan upah buruh rendah.

Untuk itu, salah satu solusi yang dapat diupayakan pemerintah adalah mendorong produktivitas melalui peningkatan inovasi pada teknologi, seperti yang dilakukan Korea Selatan, yang mampu menjadi negara maju dalam waktu 15 tahun.

Selain itu, untuk mendukung proses transformasi industrialisasi secara gradual ke arah industri berbasis nilai tambah tinggi, maka pemerintah akan menyiapkan insentif bagi perusahaan yang menyiapkan penelitian dan pengembangan (R&D) bagi sumber daya manusia. (ant/bh)