Penderita HIV/AIDS Jatim Terbanyak Kedua di Indonesia

Penderita HIV/AIDS Jatim Terbanyak Kedua di Indonesia
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jatim, dr Harsono

Kasus HIV/AIDS di Jatim masih tinggi. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim  2014 menyebutkan jumlah penderita penyakit menular ini sebanyak 24.935 orang penderita dimana 12.347 (49,5%) masuk kategori AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jatim, dr Harsono, di Surabaya mengatakan, Jatim terbanyak kedua setelah Papua (26.235) penderita dengan rincian HIV 16,051, dan AIDS 10,184.

“Beberapa tahun terakhir Jatim menduduki peringkat kedua setelah Papua,” katanya

Jumlah penduduk mengakibatkan dan kesadaran kesehatan masyarakat yang rendah membuat Jatim rentan penularan HIV/AIDS. Jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak adalah Kota Surabaya (2.030 kasus) disusul Kabupaten Malang (1.058 kasus) dan Kabupaten Jember (750 kasus). Sedangkan daerah yang paling sedikit melaporkan kasus AIDS adalah Kabupaten Sampang (4 kasus).

“Laporan kematian tertinggi terjadi pada tahun 2011 (457 orang). Pada tahun 2014 laporan kematian AIDS sebanyak 109 orang,” katanya.

Jenis pekerjaann, pasien AIDS terbanyak adalah wiraswasta (2.192 kasus atau 17,75%) disusul dengan ibu rumah tangga sebanyak 2.129 (17,24%). Kelompok umur pasien AIDS yang tertinggi adalah pada kelompok umur 25-29 tahun, yaitu sebanyak 2.803 kasus (22,70%).

Kasus AIDS pada anak sebanyak 446 dengan proporsi terbanyak pada kelompok umur 0-4 (sebanyak 330 anak). Faktor risiko penularan tertinggi adalah melului hubungan heteroseks, yaitu sebanyak 9.627 (77,97%).

Melihat kondisi ini, Harsono berharap ada upaya intensif dari semua pihak untuk mengurangi penularan dan penambahan kasus HIV/AIDS. Menurutnya, pemerintah sebagai pengambil kebijakan akan merevisi Perda Nomor 5 Tahun 2004, menyiapkan Obat Anti Retrovirus (ARV), Duviral, Neviral, Zidovudin, Nevirapin, Evafirens dan FDC (Fixed Dose Combination yang terdiri dari tenofofir, Lamifudin dan Evafiren) diberikan secara Gratis.

Selain itu, upaya pencegahan melalui kampanye Aku Bangga Aku Tahu (ABAT), kegiatan Harm Reduction pada pengguna napza suntik, dan program penyediaan kondom untuk mencegah penularan melalui hubungan seks dengan pasangan HIV positif.

Juga menyiapkan 134 sarana diagnosis HIV berupa layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) di kabupaten/kota dan 45 sarana CST (Care Support Treatment). (kmf/wh)