Pendapatan Holcim Tembus Rp 9,69 Triliun

Pendapatan Holcim Tembus Rp 9,69 Triliun

 

PT. Holcim Indonesia Tbk secara resmi mengumumkan hasil laporan keuangan untuk tahun 2013. Pencapaian pendapatan penjualan dari penjualan meningkat sebesar 7,5 persen menjadi Rp 9,69 triliun. Keuntungan pada tahun tersebut mencapai Rp 952 miliar atau Rp 124 per lembar saham.

Untuk itu, pada Rapat Umum Pemegang Saham yang akan datang, Dewan Direksi akan mengajukan persetujuan dari para pemegang saham untuk pembayaran deviden final total Rp 90 per lembar saham dari pendapatan tahun 2013 yang meningkat 12,5 persen dibanding periode tahun lalu.

“Saat ini kita sudah mulai dapat melihat pendapatan dan keuntungan-keuntungan tersebut tidak semata-semata sebagai pelengkap keberadaan Holcim, di Pulau Jawa, tapi juga sebagai bentuk investasi logistik dan pengembangan jalur kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik secara lebih menyeluruh,” jelas, Presidem Direktur PT. Holcim Indonesia Tbk Eamon Ginley, dalam keterangan persnya, Minggu (2/3/2014)

Disisi lain, Eamon Ginley menyebutkan,  untuk total pendapatan aset perusahaan mengalami peningkatan menjadi Rp 14,89 triliun dari sebelumnya Rp 12,17 triliun.

“Peningkatan ini terjadi karena pabrik Tuban 1 yang sudah mulai beroperasi, pabrik Tuban 2 yang tengah dalam proses pembangunan, dan investasi pada operasional di sana yang sudah berjalan saat ini,” paparnya

Dengan kelebihan suplai yang mampu diserap pasar, permintaan produk Holcim terus meningkat hingga akhir tahun 2013 dan terus berlanjut pada tahun 2014. 2 pabrik baru milik perusahaan di Tuban, Jawa Timur dengan volume masing-masing 1,7 juta ton akan terealisasi pada tahun 2014 dan 2015, dan memperkuat posisi Holcim Indonesia untuk mencapai pertumbuhan di masa yang akan datang.

“Kinerja tahun lalu masih merupakan masa transisi dari pasokan ketat yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, “ ujarnya

Holcim terus mengoperasikan kapasitas produksinya secara maksimal sepanjang tahun 2013 dengan tambahan kapasitas sebesar 40 persen  dari kombinasi pabrik Tuban 1 yang telah memproduksi semen pertamanya pada bulan Oktober 2013, dan Tuban 2 yang akan mulai beroperasi pada tahun 2015 nantinya akan memberikan keuntungan kompetitif dari sisi biaya produksi yang lebih rendah dan distribusi yang lebih dekat pada pelanggan.

Sementara untuk peningkatan pinjaman keuangan bersih pada tahun 2013 telah memberikan kontribusi pendanaan yang dibutuhkan untuk mendukung sasaran-sasaran strategi perusahaan. Termasuk perluasan kapasitas produksi, rantai pasokan dan layanan komersial, peningkatan manajemen sumber daya manusia termasuk peningkatan fasilitas yang akan siap beroperasi pada tahun 2014 untuk operasional pengelolaan limbah perusahaan.

Berdasarkan data dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), konsumsi semen secara keseluruhan meningkat 5,5 persen  menjadi 58 juta ton jika dibandingkan dengan peningkatan sebesar 14 persen  pada tahun 2012 dan 18 persen  pada tahun 2011.(wh)