Pendapatan Garuda Indonesia Stagnan

 

Pendapatan Garuda Indonesia Stagnan

Sepanjang tiga bulan pertama 2014, pendapatan PT Garuda Indonesia masih stagnan.  Pendapatan Operasi (Operating  Revenue) sebesar USD 807,3 juta,  relatif stabil dibandingkan  periode sama pada 2013 lalu yakni berjumlah USD 807,2 juta.

“Kinerja keuangan Garuda Indonesia pada Q1-2014 masih dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, masih tingginya harga bahan bakar,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dalam siaran persnya, Jumat (2/5/2014).

Selain itu, faktor lainnya dipengaruhi adanya peningkatan kompetisi di pasar internasional, investasi yang dilaksanakan Garuda Indonesia berkaitan dengan program pengembangan armada dan proses pengembangan Citilink sebagai Low Cost Carrier yang beroperasi secara mandiri.

“Pengembangan armada melalui pesawat baru juga dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi melalui efisiensi penggunaan bahan bakar dan menurunkan beban biaya perawatan pesawat mengingat pesawat baru lebih hemat atau efisien dibanding pesawat tua. Selain itu, untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang jasa transportasi udara melalui penambahan frekuensi penerbangan dan pembukaan rute-rute baru,” katanya.

Dia menjelaskan, pendapatan ini ditunjang oleh pertumbuhan jumlah penumpang yang diangkut sebanyak 6.4 juta penumpang atau tumbuh sekitar 15.6 persen dibandingkan kuartal pertama 2013 lalu sebanyak 5.56 juta penumpang.

Sedangkan, untuk angkutan kargo tumbuh hingga 16,8 persen yakni sebanyak 94,608 ton “Frekuensi penerbangan domestik dan internasional Garuda Indonesia juga meningkat 21,3 persen, dari 44.224 penerbangan pada kuartal pertama 2013 menjadi 53.627 pada kuartal pertama 2014. Begitu juga pada kapasitas produksi Availability Seat Kilometer (ASK) meningkat sebesar 18,7 persen dari 9,96 miliar menjadi 11,83 miliar,” ungkapnya.

Emirsyah menambahkan, untuk trafik penumpang Garuda Indonesia di dalam negeri pada periode kuartal pertama 2014 mencapai 3,95 juta penumpang atau tumbuh 14,5 persen, lebih baik dibanding maskapai lain yang rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 4,8 persen.

Sedangkan untuk rute-rute internasional pada periode yang sama 2014 sebesar 906 ribu penumpang, relatif stabil dibanding periode tahun sebelumnya, yaitu 922 ribu penumpang.

“Trafik penumpang Citilink, anak usaha kami di segmen Low Cost Carrier, pada periode Q1 (kuartal pertama,red) 2014 meningkat 32,3 persen menjadi 1,57 juta penumpang. Dengan Seat Load Factor (SLF) turun dari 74,5 persen menjadi 68,4 persen,” paparnya.

Selain itu, tambahnya, untuk tingkat ketepatan penerbangan (On-Time Performance (OTP) sedikit turun dari 87,9 persen menjadi 85,9 persen. (ram)