Pencapaian PAD Surabaya Tak Sesuai Target

Pencapaian PAD Surabaya Tak Sesuai Target
foto: surabaya.go.id

Penurunan pertumbuhan ekonomi di Surabaya ternyata berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) yang diperoleh Surabaya sepanjang tahun 2015. Hal itu terlihat bahwa sampai Juni kemarin, PAD Surabaya baru mencapai 46 persen dari target Rp 2,6 trilliun sepanjang tahun 2015 ini. Nilai tersebut masih jauh dari target.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Pemkot Surabaya Yusron Sumartono, Rabu (1/7/2015). Pihaknya mengakui bahwa karena ada penurunan daya beli masyarakat maka berpengaruh pula pada pendapatan pajak di Surabaya.

“Kalau dibilang menurun belum terlihat. Tapi kalau dari target, disbanding tahun lalu kita menargetkan ada peningkatan, namun nyatanya pertumbuhan ekonomminnya menurun jadi target tidak tercapai,” tutur Yusron.

Pihaknya mencetuskan, beberapa sector pajak yang turun adalah dari pajak restoran dan juga hotel. Namun nilanya tetap tidak begitu signifikan. Sector pendapatan dari bidang pajak ini terus diupayakan pemkot agar terus mingkat agar bisa mengejar nilai ketinggalan jelang tengah tahun ini. Targetnya paling tidak di bulan Juli ini, pemkot bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun.

Terutama selama Ramadan dan juga Lebaran mendatang. Pada Ramadan yang dapat digenjot adalah pendapatan pajak dari restoran dan juga hotel. Namun nanti ketika Lebaran diprediksi akan ada penurunan lantaran Surabaya terbilang sepi saat Lebaran tiba.

Hingga Juni, pertumbuhan ekonomi Surabaya msih belum menunjukkan kemajuan. Pertumbuhan ekonominya masih stuck di angka 6 persen. Padahal tahun lalu pertumbuhan ekonomi Surabaya mencapai 7,21 persen. Penurunannya sampai 1,21 persen.

Kabag Pereknomian Pemkot Surabaya Khalid menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi Surabaya meskipun menurun masih jauh di atas Jawa Timur dan juga nasional.

“Jatim 5,1 persen, sedangkan nasional pertumbuhannya 4,71 persen. Surabaya meski menurun tetap bertahan di atas jarim dan nasional,” tuturnya.

Sebab, kata dia, Pemkot Surabaya memiliki strategi tersendiri dalam mengendalikan infalasi yang menjadi pengaruh esar dalam pertumbuhan ekonomi lokal.

Caranya, setiap hari kepala dinas memiliki jaringan yang update harga di pasaran. Lantaran Indonesia menganut sistem ekonomi pasar, maka inflasi sangat ditentukan oleh harga pasar. Sehingga jika laporan harian harga pasar di jaringan kepala dinas menunjukkan adanya gejolak, maka pemkot langsung turun melakukan aksi.

“Dinas Pertanian dan DInas Perdagangan pasati langsung turun. Selain itu kami juga kan selalu aktif dalam melakukan interfrensi dalam bentuk operasi pasar. Dan juaga selalu ada pemantauan gudang dan spekulan,” terang dia.

Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan, selain dari sektor komoditi yang juga memperlihatkan pengaruh adalah dari sektor investasi properti. Pengaruhnya terlihat secara langsung. Sebab banyak orang yang cenderung melakukan penundaan pembelian.

“Kalau PAD secara total tidak begitu terpengaruh, tapi kalau geraknya lambat memang iya. Saya rasa hotel dan restoran akan tetap stabil kalau property barru kelihatan,” tandas Risma.

Namun, menurut Risma, pertumbuhan ekonomi Surabaya akan kembali normal dalam semester kedua mendatang. (wh)