Pemprov Jatim Tolak Kenaikan Cukai 2016

Pemprov Jatim Tolak Kenaikan Cukai 2016
Panen tembakau. foto: gutteres/enciety.co

Pemprov Jawa Timur  secara tegas menolak rencana kenaikan tarif cukai rokok tahun 2016 yang diusulkan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu). Kenaikan itu dianggap tidak relevan dan dinilai membebani industri hasil tembakau di Jawa Timur.

“Saya ndak setuju. Wong PHK saat ini sudah banyak kayak gini. Nanti kalau dinaikkan ongkosnya, beban perusahaan jadi bertambah, bisa-bisa perusahaannya bangkrut, belum lagi PHK massal,” kata Gubernur Jatim Soekarwo.

Soekarwo menambahkan, kenaikan yang diusulkan itu harus mencermati kondisi yang ada. Sementara saat ini daya beli masyarakat menurun akibat deflasi, ditambah beban industri yang bertambah akibat mahalnya bahan baku produksi.

“Kenaikan itu prinsipil. Kenaikan itu harus melihat inflasi daerah. Jatim sendiri hingga Agustus lalu inflasinya hanya 2,11 persen. Kalau dipaksakan, pabrik rokok bisa gulung tikar, lalu PHK, bagaimana,” lanjutnya.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016, pemerintah mengusulkan penerimaan cukai hasil tembakau naik 23 persen menjadi Rp 148,85 triliun. Angaka ini setara 95,72 persen dari total target penerimaan cukai tahun 2016, senilai Rp 155,5 triliun.

Sementara pada 2014  realisasi cukai tembakau hanya Rp 116 trilun. Padahal target cukai 2015 yang tertuang di APBN yang diteken pada September 2014, yaitu sebesar Rp 120,6 triliun.

Kontribusi Jawa Timur terhadap penerimaan cukai negara sejak 2010 hingga 2014, tercatat rata-rata di atas 50 persen. Tahun lalu saja dari target penerimaan cukai nasional sebesar Rp 112,75 triliun, Jatim menyumbang Rp 67,6 triliun, atau berkontribusi 60 persen.

Berdasar data dari Kadin Jatim menyebutkan bahwa jumlah industri hasil tembakau di Jatim padaperiode 2009 hingga 2013 menurun rata-rata 27,3 persen per tahunnya. Tahun 2008 Jatim memiliki sekitar 4.900 industri hasil tembakau, namun tahun 2013 menyusut sekitar 790 industri saja.

Areal dan produksi tembakau petani pun di Jawa Timur pun terus mengalami penurunan. Pada tahun 2012 luasan pertanian tembakau yang mencapai 150.048 hektar (135.591 ton), menyusut menjadi 95.824 hektar (73.996 ton) pada tahun 2013. (wh)