Pemkot Surabaya Klarifikasi Pembangunan Hotel Amaris

Pemkot Surabaya Klarifikasi Pembangunan Hotel Amaris

Sekkota Surabaya Hendro Gunawan memberikan klarifikasi lobi lantai 2 Balai Kota Surabaya, Selasa, (10/10/2017). foto:humas pemkot surabaya

Polemik perizinan rencana pembangunan Hotel Amaris di Jalan Taman Apsari yang lokasinya dinilai kurang tepat karena tidak sampai 100 meter terdapat bangunan gedung Negara Grahadi Surabaya yang biasa digunakan untuk aktivitas penting kenegaraan, akhirnya diklarifikasi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Sekretaris Kota (Sekkota) Surabaya Hendro Gunawan mengatakan, proses pembangunan Hotel Amaris yang sudah mendapat izin dari pihak pemkot sudah melewati tahapan atau ketentuan-ketentuan izin reguler mulai dari Amdal hingga proses IMB.

“Dari teman-teman OPD sudah kita kumpulkan data-data terkait proses perizinan pembangunan Hotel Amaris,” kata Hendro di lobi lantai 2 Balai Kota Surabaya, Selasa, (10/10/2017).

Di dalam proses perizinan itu, lanjut Hendro, pemkot juga membuka forum konsultasi yang dimaksudkan untuk memberi masukan terkait pembangunan Hotel Amaris. Di dalam forum itu, kata Hendro, tidak hanya dari pemkot tetapi juga ada dari provinsi dan institusi lainnya. “Alhamdulilah, pada forum konsultasi sudah ada saran dan masukan yang sudah diakomodir dan dimasukkan dalam proses perizinan ini,” imbuhnya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Ery Cahyadi menjelaskan, proses izin pembangunan Hotel Amaris dikeluarkan karena dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya dasar hukum, Amdal dan IMB.

Menurutnya, sebelum surat permohonan Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK) dikeluarkan, pihaknya sudah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan dengan DKP, tenaga ahli dan praktisi untuk melihat dasar hukum terkait aturan bangunan yang tinggi dan berjarak dengan bangunan negara.

“Ternyata di dalam aturannya tidak pernah menentukan berapa tinggi dan jarak antara gedung yang akan dibangun dengan bangunan negara baik dari pemerintah pusat maupun pemda,” terang Ery.