Pemkot Surabaya Gandeng Kemenlinghut Uji Emisi Kendaraan

Pemkot Surabaya Gandeng Kemenlinghut Uji Emisi Kendaraan
Balai Kota Surabaya, Selasa (4/11/2014). avit hidayat/enciety.co

Pemkot Kota Surabaya terus berupaya untuk menekan angka polusi di Surabaya, satu di antaranya dengan rutin menggelar agenda uji emisi kendaraan di Kota Pahlawan. Seperti yang terlihat Selasa (4/11/2014) pagi, Pemkot melakukan uji kendaraan di Balai Kota Surabaya.

Menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenlinghut), sedikitnya ribuan kendaraan sejak pukul 08.00 WIB diperiksa oleh enam alat pengukur emisi yang dibuang mobil. “Kami ada enam alat ukur. Dua di antaranya adalah alat ukur mobil berbahan bakar solar dan empat lainnya mobil berbahan bakar bensin,” kata Kasubbid pemantauan dan Pengawasan Transportasi Darat Kemenlinghut, John H. P. Tambun kepada wartawan.

Menurutnya kegiatan ini sudah berjalan lama untuk mengetahui angka polutan kota-kota metropolitan di Indonesia. Surabaya sendiri menurutnya adalah kota kelima yang menyandang sebagai kota dengan kualitas udara terbaik di antara 16 kota metropolitan di Indonesia.

“Dapat kita lihat langit di Surabaya masih biru. Ini menunjukkan bahwa kualitas udara masih bagus. Beda dengan Jakarta yang sudah terlihat putih langitnya karena polusi udara,” terangnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat memimpin dilakukannya uji emisi menegaskan bahwa faktor pencemaran udara sangat banyak untuk itu pihaknya terus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas udar di Surabaya.

“Harus ada penambahan fasilitas dan kualitas uji kir. Jadi kendaraan tidak lari ke luar kota saat dilakukan uji kir. Ini sangat berpengaruh pada jumlah kelaikan kendaraan, biar tidak ada kecelakaan seperti beberapa waktu yang lalu itu,” katanya.

Menurut Risma, ini artinya diperlukan pendekatan yang komprehensif untuk menekan angka polutan di Kota Pahlawan. Satu di antaranya dengan menggenjot program penghijauan kota.

“Kalau kita tidak melakukan penghijauan keadaannya akan jauh lebih rusak dibanding sekarang. Ini karena kualitas kendaraan di Surabaya berbeda dengan Jakarta yang kebanyakan mobilnya baru semua. Untuk itu, kita (Pemkot Surabaya) menyiapkan transportasi massal,” bebernya.

Risma juga mengkritisi kualitas bahan bakar yang masuk Surabaya yang tidak bagus untuk kendaraan. Ini akan berakibat fatal pada pembakaran mesin yang tidak maksimal kemudian asap yang dibuangkan kendaraan akan lebih banyak dan lebih berbahaya.

Sementara itu, kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Surabaya, Eddi membeberkan di Surabaya sendiri ada sedikitnya 5 ribu kendaraan yang telah terdaftar dan tidak melakukan uji kir secara berkala. “Dia hanya perpanjangan plat nomer saja, tapi tidak melakukan uji kir,” ungkapnya.

Menurut Eddi, kondisi ini terjadi lantaran adanya perubahan peraturan samsat yang sebelumnya memberlakukan ketentuan uji kir saat memperpanjang STNK ternyata sekarang dihapus.

“Kalau tidak melakukan uji kir akibatnya akan fatal karena bisa menyebabkan kecelakaan. Sampai saat ini, kendaraan yang terdaftar sebanyak 80 ribu kendaraan wajib kir. Uji kir itu kami lakukan 52 kali dalam setahun secara gratis,” jelasnya.(wh)