Pemkot Surabaya Bina 395 Warga Eks Dolly jadi Entrepreneur

 

Pemkot Surabaya Bina 395 Warga Eks Dolly jadi Entrepreneur

Pemerintah Kota Surabaya makin serius membangkitkan geliat ekonomi warga eks lokalisasi Dolly paska penutupan pada 18 Juni lalu. Saat ini Pemkot telah membina 395 warga terdampak di kelurahan Putat Jaya.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kahumas) Pemkot Surabaya Muhammad Fikser, pelatihan keterampilan telah dilaksanakan oleh pemkot surabaya sejak tahun 2010 hingga 2013. Tepatnya kepada 49.447 warga di 31 kecamatan se Surabaya.

“Khusus untuk kelurahan Putat Jaya yang telah dilatih sebanyak 395 warga. Yakni pelatihan membuat berbagai olahan makanan dan produk rumah tangga, dan caranya membatik,” ujarnya.

Kata dia, kelompok swadaya masyarakat yang sudah terbentuk di wilayah tersebut, beberapa di antaranya telah difasilitasi Pemkot Surabaya dalam hal bantuan pemasaran, produksi, hingga modal. “Nanti saya bantu pinjamkan modal usaha untuk mereka,” tuturnya.

Seperti yang terlihat Selasa (15/7/2014) lalu, beberapa warga terdampak sedang memamerkan usaha kreatifnya kepada awak media. Satu di antaranya adalah Tutik Asini (30), warga Gang II nomor 10, Kelurahan Putat Jaya itu sedang menggeluti profesi baru menjadi pengusaha kue.

Kepada enciety.co, ibu tiga anak itu mengakui baru menggeluti menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang dibina Pemkot Surabaya. “Awalnya tidak bisa buat kue, tapi saya bersama warga di lingkungan dibekali dengan pelatihan memasak dari Bapemas,” jelasnya.

Setelah sudah cukup mumpuni untuk bisa memasak berbagai jenis kue, akhirnya sekitar dua minggu yang lalu, mantan operator kafe di eks lokalisasi Dolly itu mulai menjualnya di lingkungan sekitarnya. “Awalnya modal sendiri,” cetusnya.

Sutik, warga Putat Jaya lainnua, juga mempunyai usaha baru menjadi produsen telur asin. Perempuan paro baya itu mengaku meski penghasilannya tidak lebih besar ketimbang usaha warung kopinya dulu namun ia tetap memaklumi lantaran Dolly sudah ditutup.

“Untuk pemasaran telur asin sangat laris. Namun produksinya membutuhkan waktu lama,” jelas dia.

Sementara ini, Sutik baru memasok telur asin di wilayah Putat Jaya saja. “Saya pengennya bisa memasarkan produk saya di RSUD Soewandhi Surabaya,” ujarnya.

Senada dengan Sutik, Suryono (35) warga terdampak itu juga berharap usaha barunya, menjadi produsen deterjen dapat berkembang. “Saya berharap pemerintah membantu memasarkan produk saya,” mintanya.

Pria yang dulunya berprofesi menjadi penjual nasi untuk eks pekerja seks komersial (PSK) lokalisasi Dolly itu banting setir berkat arahan dari Pemkot Surabaya.

“Saya memproduksi sabun cuci mobil, softener, pembersih karang, dan sabun cuci. Alhamdulillah saat saya jual di Bazar Ramadan Surabaya animo masyarakat cukup tinggi,” katanya. (wh)