Pemkot Surabaya Belum Naikkan Tarif Rusunawa

Pemkot Surabaya Belum Naikkan Tarif Rusunawa

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya belum berencana menaikkan tarif sewa rumah susun sederhana sewa (rusunawa) pada 2016 dengan pertimbangan sebagian besar penghuni rusun dari keluarga masyarakat berpenghasilan rendah dan masih banyak terbebani kebutuhan hidup.

Kepala Dinas Pengelolaan Tanah dan Bangunan (DPTB) Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, pada prinsipnya keberadaan rusunawa di Surabaya bukan untuk mencari keuntungan.

“Rusunawa ini sengaja dibangun agar warga Surabaya yang masuk dalam kategori MBR bisa tetap tinggal dihunian yang murah, nyaman dan bebas banjir,” katanya, Rabu (21/10/2015).

Dia mengakui bahwa antara pendapatan dari sewa rusun dengan biaya pemeliharaan terjadi defisit. Tahun ini untuk rusunawa pendapatan sudah tercapai Rp 816 juta dari target sebesar Rp 709 juta.

“Sejauh ini belum ada rencana kenaikan untuk tahun depan. Kalau dibilang defisit yang defisit, tapi saya tidak tahu pasti berapa angka defisitnya,” katanya.

Diketahui, biaya sewa rusunawa milik Pemkot Surabaya dianggap cukup murah. Rata-rata di bawah Rp 100.000 tiap bulan. Masing-masing rusunawa berbeda tarif sewa tiap bulannya, misalnya rusunawa Romokalisari, untuk lantai satu biaya sewa ber bulan sebesar Rp 59.000, lantai dua Rp 53.000, lantai tiga Rp 48.000, lantai empat Rp 43.000, dan lantai lima Rp 39.000.

Rusunawa itu dihuni warga sekitar dan yang bekerja di sekitar lokasi rusun, serta para nelayan, sedangkan rusunawa di Siwalankerto tarif sewa untuk lantai satu sebesar Rp 91.000 per bulan, lantai dua Rp 81.000, lantai tiga Rp 71.000 dan lantai empat sebesar Rp 61.000. Rata-rata penghuni di rusunawa ini adalah para PKL setempat.

Disisi lain, lanjut dia, DPTB Kota Surabaya juga menyiapkan lahan seluas 152.100 meter persegi untuk dibangun rusunawa. Hal ini dilakukan guna mengurangi angka backlog (kekurangan rumah tinggal) di Surabaya.

Adapun dari total luas lahan tersebut berada di 11 titik lokasi, di antaranya di kawasan Keputih diusulkan 12 blok dengan luas 25.000 meter persegi, Tambaksari ada empat blok seluas 13.000 meter persegi, Dukuh Menanggal enam blok 20.000 meter persegi dan Sememi empat blok 7.000 meter persegi.

Begitu juga di Panjaringan Sari satu blok 1.700 meter persegi, Jambangan satu blok 1.700 meter persegi, Gununganyar dua blok 3.600 meter persegi, Pagesangan dua blok 3.800 meter persegi, Bulak 20 blok 32.000 meter persegi, Benowo 25 blok 43.000 meter persegi dan Siwalankerto satu blok 3.000 meter persegi.

“Akhir tahun ini kami akan meresmikan rusunawa di Sememi dengan kapasitas 96 unit kamar,” tandasnya. (wh)