Pemerintah Harus Selektif terhadap Kopi Impor

Pemerintah Harus Selektif terhadap Kopi Impor

Pemerintah perlu mengambil sikap tegas terkait maraknya kopi impor yang tidak berkualitas. Pasalnya, kondisi tersebut mengancam industri kopi nasional.

Ketua Umum Gabungan Eksporter Kopi Indonesia (GAEKI) Hutama Sugandhi menegaskan hal itu, Selasa (14/1/2014). “Kopi impor yang masuk jauh dari kualitas kopi Indonesia. Padahal kopi impor dari negara-negara kawasan Asia tidak sebanding dengan kualitas kopi produksi dalam negeri,” katanya.

Menurut dia, daya saing kopi asal Indonesia di luar negeri cukup kompetitif. Ini tidak lepas dari lima varian dari sepuluh kopi terbaik dunia berasal Indonesia.

“Kopi yang diimpor rata-rata sudah dalam bentuk kemasan dan bukan dalam bentuk curah. kopi dalam kemasan ini dalam bentuk instant dan sudah dicampuri dengan gula,” terang Sugandhi.

Sugandhi menegaskan, impor kopi dalam kemasan itu dianggap merugikan Indonesia. Sebab, kadar gula dalam kemasan sudah mencapai 40 persen dari isi, ditambah susu instan yang mencapai 20 persen.  ”Ini sangat merugikan pasar kopi dalam negeri. Sebab impor kopi tersebut hanya bagian kecil dari kadar gula yang tercampur,” bebernya.

”Kami meminta pemerintah menerapkan standar terhadap kopi impor. Bila tidak sesuai standar, kami meminta untuk ditolak,”  imbuh dia.

Data GAEKI, ekspor kopi pada tahun 2013 kemarin tercatat USD 160 juta atau setara Rp 1,92 triliun dengan kurs USD Rp 12.000. Ekspor itu naik sekitar 4 persen dibanding tahun 2012, atau setara USD 155 juta. Nilai itu setara Rp 1,86 triliun.

Selain masalah kopi impor dalam kemasan, juga banyak kopi hasil olahan di luar negeri. Sugandhi menontohkan kopi produksi dalam negeri dieskpor, kemudian diolah di Seatle, Amerika Serikat, kemudian kembali diimpor ulang ke Indonesia untuk kebutuhan kafe.

”Kita memang kalah dalam teknologi pengolahan pasca panen. Hal ini yang kerap dimanfaatkan negara-negara maju untuk menjual kembali ke Indonesia, tetapi untuk pasar high end (menengah ke atas),” urainya.(wh)