Pemerintah Harus Bisa Fasilitasi Petani Kembangkan Produk Premium

Pemerintah Harus Bisa Fasilitasi Petani Kembangkan Produk Premium

Dedy Irianto dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Untuk menata dan meningkatkan daya saing ekspor bukan hanya merumuskan kebijakan di hilir, tapi juga menata hulunya. Itu artinya, Pemerintah saat ini harus bisa menata kembali proses produksi komoditas yang akan diekspor.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Meningkatkan Daya Saing untuk Mendorong Ekspor” di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/9/2019).

“Kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah salah satunya dengan memfasilitasi petani agar bisa mengembangkan produk bernilai premium di pasar global,” katanya.

Dia lalu menyebut jika pemerintah dapat membantu mengembangkan pestisida atau obat hama yang alami, bukan lagi pestisida dari bahan kimia berbahaya.

“Selain itu, lewat berbagai program, pemerintah dapat memberikan fasilitas pelatihan, menyediakan modal untuk petani supaya mereka dapat menghasilkan produk yang layak ekspor,” tegas pria yang dijuluki Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana mencontohkan komoditas kopi yang belakangan ini menjadi primadona ekspor baru bagi Indonesia. Menurut dia, komoditas ini punya potensi dan peluang yang besar di pasar global. Selain kualitas komoditas kopi Indonesia telah diakui dunia, ragam dan jenis kopinya punya khas tersendiri.

“Kita punya banayk jenis kopi dengan kualitas yang bagus. Contohnya, kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Wamena dan lain sebagainya. Nah, jenis kopi tidak lagi dibagi menjadi dua, robusta maupun arabika. Kalau liat ditoko-toko itu kita punya jenis kopi yang terbagi sesuai dengan letak geografis. Jika itu dipertahankan, maka produk kita punya unique selling point yang bisa dijual dipasar global,” cetusnya.

Dedy Irianto, Analis Senior Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Jatim, menyampaikan, sebagai regulator pihaknya selalu berkomitmen meningkatkan daya saing produk ekspor. Salah satunya dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong produsen lebih produktif.

“Kita bertindak sesuai undang-undang yang telah mengikat. Untuk para produsen kita punya beberapa program kemitraan dan beberapa pelatihan serta fasilitas yang dapat mendorong mereka menjadi makin maju lagi,” katanya

“Kita juga punya program corporate social responsibility (CSR) yang diperuntukkan untuk para produsen. Intinya, kita bisa bantu untuk kebijakan dan bantuan teknis, namun jika itu merupakan bantuan dana, kami tidak bisa karena hal itu menyalahi perundang-undangan,” imbuh Dedy

Dedy juga mengakui kopi merupakan komoditas potensial pasar Eropa. Hal ini juga terkait dengan satu negara penghasil ekspor kopi terbesar yang dilarang beberapa negara di Eropa.

“Ini menjadi peluang bagi komoditas kopi kita. Pola-pola seperti ini harus bisa dibaca dan disikapi dengan cepat oleh pelaku ekspor Indonesia supaya makin maju,” papar Dedy. (wh)

Berikan komentar disini