Pemerintah Diminta Alihkan Ekspor Karet ke Pasar Dalam Negeri

 

Pemerintah Diminta Alihkan Ekspor Karet ke Pasar Dalam Negeri

Rendahnya harga karet di pasar dunia dalam setahun terakhir membuat petani kian merugi. Sebagai negera penghasil karet terbesar kedua di dunia, pemerintah kini diharapkan dapat membantu pengalihan penjualan ekspor karet ke pasar dalam negeri.

“Walau tak mudah, pengalihan pasar ekspor karet ke dalam negeri bisa sedikit membantu petani. Serapan karet untuk pasar dalam negeri memang masih rendah, namun agar petani tidak terus merugi, maka kami menghimbau pemda untuk turut tangan mengolah karet,” ujar Direktur Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian, Herdrajat Natawijaya, Rabu (13/8/2014).

Sebagaimana yang telah direkomendasikan Balai Penelitian Tekhnolgi Karet, kata dia, penggunaan karet untuk bahan aspal jalanan bisa dimulai oleh pemerintah daerah (Pemda).

Menurut dia, kelebihan penggunaan karet dalam proses pengaspalan jalan dapat membantu jalanan lebih awet selama empat tahun. Lewat pembelian karet dari petani oleh Pemda, ujar dia, dapat mengalihkan pasar karet yang berorientasi pada ekspor berubah menjadi pasar dalam negeri.

“Thailand sudah memulai. Harapan kami Pemda juga turut memulainya sebagai panutan, misalnya untuk diserap oleh industri otomotif, tekstil, dan alat kesehatan,” ujar Herdrajat.

Kondisi ini diyakininya dapat membantu petani untuk tetap hidup ditengah melimpahnya ketersedian karet namun harganya justru tertekan. Terlebih, lanjut dia, saat ini negara tujuan ekspor seperti Cina dan India menahan sementara permintaan ekspor karet karena cadangannya masih banyak.

Menyikapi rendahnya harga karet, PT Pekebunan Nusantara (PTPN) XII kini juga mengurangi kapasitas produksi. “Harga karet yang belum juga membaik, kami pun merevisi target produksi karet tahun ini. Jika awal tahun, PTPN XII menargetkan produksi karet mencapai 16.330 ton, melewati kuartal 1 ini, kini target produksi menjadi 13.000-15.000 ton,” kata Direktur Pemasaran Perencanaan dan Pengembangan PTPN XII, Sugeng Budi Raharjo.

Sugeng mengatakan, sulit untuk mempertahankan target produksi di tengah penurunan harga karet. Bila target produksi tak direvisi, ia khawatir akan mengganggu target perolehan laba perusahaan. Hingga kuartal pertama ini, produksi karet PTPN XII sekitar 3.750 ton.

“Perusahaan sengaja mengerem produksi karet agar tak terjadi penumpukan stok di gudang. Untuk sementara, seluruh produksi ini dijual ke pasar domestik,” tuturnya. Namun ia belum bisa memastikan kapan ekspor karet bisa kembali dilakukan. (kmf/wh)