Pemerintah Beri Kemudahan Investor Kakao Masuk Indonesia

Pemerintah Beri Kemudahan Investor Kakao Masuk Indonesia

Pemerintah memberikan kemudahan bagi investor kakao yang masuk ke Indonesia. Ini karena keberadaan perusahaan kakao bisa mendongkrak pendapatan daerah dan menciptakan tenaga kerja lebih banyak.

Perlakukan khusus yang diberikan pemerintah adalah, pembebasan bea masuk atas pengimporan mesin, barang dan bahan, bea keluar biji kakao dalam rangka menjamin pasokan bahan baku biji kakao di dalam negeri, pengurangan pajak penghasilan (PPh) bagi investasi baru maupun perluasan dibidang industri pengolahan kakao dan fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu daerah-daerah tertentu.

Juga pemberian fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan dengan persyaratan merupakan industri pioner yang akan menanamkan modal sebesar Rp 1 triliun serta berproduksi secara maksimal.

“Kami sudah tetapkan, minimal investasi Rp1 triliun mendapatkan perlakukan khusus. Saya yakin aturan ini mendorong investor untuk masuk ke Indonesia,” kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin saat pembukaan PT Cargill Indonesia di Gresik, Rabu (10/12/2014).

Saleh mengatakan, ketentuan yang dibuat diyakini akan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam mendorong perkembangan industri pengolahan kakao di tanah air. Salah satu bukti imbas aturan ini adalah, masuknya beberapa investor dibidaang industri pengolahan kakao, seperti PT Cargill Indonesia yang memutuskan berinvestasi di Gresik dengan menggunakan 70.000 MT (Metrik Ton) biji kakao untuk memproduksi cocoa liquor, cocoa butter dan cocoa powder dengan nilai investasi USD100 juta.

Dengan adanya investasi ini, maka perusahaan ini membutuhkan ketersediaan bahan baku. Untuk itu, Saleh meminta supaya persiapan pengembangan hilirisasi di daerah dimatangkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri pengolaan kakao tanah air.

“Program Gernas Kakao bisa dilanjutkan kembali. Karena keberadaan investor kakao seperti PT Cargill bisa mendorong diversifikasi produk olahan kakao yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, serta bisa meningkatkan konsumsi cokelat di Indonesia,” ujar dia.

President Cargill Cocoa and Chocolate Business di Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia, Jos de Loor mengatakan, pihaknya telah meresmikan fasilitas pemrosesan kakao di Gresik, kemarin. Menurut dia, pabrik pemrosesan kakao pertama di Asia ini memiliki kapasitas sebesar 70.000 metrik ton yang akan menghasilkan berbagai produk yang disesuaikan dengan pasar Asia.

“Kami juga akan mensuplai pasar Asia, pabrik ini yang pertama d Indonesia,” katanya.

Jos de Loor mengatakan upaya Cargill membuka pabrik pemrosesan kakao dengan investasi sebesar USD 100 juta ini sebagai jawaban atas keinginan pelanggan supaya Cargill terus berinovasi dan memberikan nilai tambah terhadpa produk yang dihasilkan.

“Kami telah membeli biji kakao dari Indonesia sejak 1995 dan kami berkomitmen untuk mmendukung produksi pertanian berkelanjutan dan pasokan kakao yang bertanggung jawab di negara ini,” katanya.

Untuk itu, kami telah bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat dan para mitra untuk membantu membangun industri kakao Indonesia yang dinamis dalam jangka panjang,” imbuh dia.

Selama ini, ujar Jos de Loor, biji kakao yang dibeli dari Makassar dan Sulawesi Selatan telah diekspor dalam kondisi mentah ke berbagai negara di Asia Tenggara, Amerika Latin dan Amerika dengan volume sekitar 20.000 ton per tahun.

Namun saat ini mulai di produksi melalui industri pemrosesan ini, kakao tidak langsung diekspor dalam kondisi mentah tetapi diproses dulu menjadi bubuk-bubuk kakao premium merek Gerkens dari Cargill serta kakao jenis liquor dan butter berkualitas tinggi yang akan disesuaikan dengan permintaan konsumen di Asia.

“Untuk itu, kami akan mempekerjakan sedikirnya 300 tenaga kerja disini. Sementara total karyawan Cargill Indonesia saat ini sudah mencapai 12.000 karyawan yang dipekerjakan di berbagai kegiatan bisnis yang meliputi pakan ternak, kakao, biji-bijian dan minyak biji-bijian, kelapa sawit, kopra dan pemanis,” katanya.

Cargill juga berencana untuk memberikan pelatihan bagi 4.500 petani kakao di Farmer Field Schools yang baru dibuka di Kabupaten Bone dan Soppeng serta menargetkan agar 2.000 petani yang ikut pelatihan mendapatkan sertifikat berkelanjutan independen.

Hal ini mendukung Sustainable Cocoa Production Program (SCPP), program kemitraan yang meliputi Swiss State Secretariat for Ecobomic Affairs (SECO), Sustainable Trade Initiative (IDH), Kedutaan Besar Kerajaan Belanda (EKN) Swisscontact dan perudahaan-perusahaan swasta untuk memberikan pelatihan dan bantuan teknis bagi petani kakao Indonesia di Kabupaten Bone dan Soppeng provinsi Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Bupati Gresik Sambari Halim Radianto mengatakan, pihaknya menyambut baik berdirinya pabrik kakao di Gresik. Menurut dia, pilihan Gresik tidak salah karena memiliki infrastruktur yang baik. Selain itu, di Gresik akan ada pelabuhan international sebagai penyokong perekonomian nasional.

“Kami akan memberikan kemudahan perizinan bagi investor yang masuk. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik. Jika tahun ini 7,46%, maka tahun ini bisa naik,” ujarnya. (wh)