Margin Pembibitan Sapi Tipis, Swasta Tak Tertarik

Margin Pembibitan Sapi Tipis, Swasta Tak Tertarik

Kementerian Perdagangan berharap insentif impor sapi indukan supaya semakin banyak pengusaha yang tertarik. Insentif diberikan agar impor sapi indukan bisa mencapai satu juta ekor per tahun selama empat tahun mendatang.

Selama ini sangat sedikit importir tertarik mengimpor sapi indukan sehingga kekurangan pasokan daging terus terjadi. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi menjelaskan, insentif diusulkan melalui pengurangan bea masuk dan pengurangan bunga bank.

”Bea masuk impor sapi indukan sebesar 5 persen diusulkan untuk dihapuskan supaya biaya pengembangbiakan lebih efisien. Kami juga sedang merumuskan kebijakan komprehensif terkait struktur biaya dengan sejumlah pihak,” ujar Bachrul.

Kredit dari perbankan sekitar 12 persen diusulkan turun hingga sekitar 6 persen. Penghapusan bea masuk dan penurunan bunga kredit diharapkan bisa meningkatkan impor sapi indukan.

Tak banyak importir yang tertarik mengimpor sapi indukan karena infrastruktur di Indonesia belum terlalu mendukung. Biaya pemeliharaan sapi indukan lebih mahal daripada sapi bakalan.

Biaya pemeliharaan sapi indukan di Indonesia mencapai empat kali lipat dibandingkan dengan pemeliharaan di Australia. Di Australia masih tersedia padang rumput sangat luas sehingga biaya pemeliharaan sapi indukan tidak terlalu mahal.

”Sebaliknya, biaya penggemukan sapi di Indonesia lebih murah daripada di Australia sehingga lebih banyak tertarik untuk penggemukan,” ujarnya.

Tahun ini, target minimal impor sapi indukan 187.000 ekor atau sekitar 25 persen dari total impor sapi. Setelah itu impor sapi indukan akan dinaikkan hingga satu juta ekor per tahun selama empat tahun ke depan.

Swasta tak tertarik

Industri pembibitan sapi tidak menarik bagi sektor swasta. Margin keuntungan usaha pembibitan sapi sangat tipis, sementara titik impasnya lama.

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi-Kerbau Indonesia Rochadi Tawaf, karena minat swasta rendah, salah satu solusi untuk mengembangkan populasi sapi adalah dengan mendorong BUMN masuk dalam sektor pembibitan.

”BUMN harus didorong ke sektor pembibitan, jangan masuk ke budidaya atau penggemukan,” katanya. Swasta jelas tidak mungkin, sementara pemerintah secara langsung juga mempunyai keterbatasan. (kom/bh)