Pembiayaan Konsumer Perbankan Syariah Jatim Capai Rp 8,37 T

 

Pembiayaan Konsumer Perbankan Syariah Jatim Capai Rp 8,37 T

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan pembiayaan melalui perbankan syariah di Jatim dianggap cukup sepanjang Triwulan II tahun ini. Sepanjang periode April hingga Juni, pembiayaan konsumer perbankan syariah tumbuh sekitar 58,89 persen atau setara Rp 8,37 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut dianggap melebihi catatan yang dimiliki BI dibandingkan pembiayaan modal kerja yang hanya tumbuh sekitar 13 persen atau setara dengan Rp 6,73 triliun. Demikian juga dengan pembiayaan dari investasi yang tumbuh sekitar 28,6 persen atau setara dengan Rp 3,32 triliun.

Kepala Perwakilan BI Wilayah IV Jatim Dwi Pranoto melalui keterangan persnya mengungkapkan, pertumbuhan ini diakibatkan faktor musiman yang turut mendongkrak penyaluran pembiayaan konsumer pada Triwulan II.

“Pertumbuhan porsi pembiayaan konsumsi diprediksi didukung peningkatan kebutuhan masyarakat selama periode tahun ajaran baru dan persiapan lebaran 2014 lalu,” kata Dwi di gedung BI Wilayah IV Jatim bersama wartawan di Surabaya, Jumat (4/9/2014).

Dia menambahkan, pertumbuhan yang cukup cepat di sektor pembiayaan konsumer berdampak terdongkraknya porsi kredit terhadap total pembiayaan. Yakni sebesar 33,93 persen  pada triwulan I menjadi 45,44 persen  pada triwulan kedua. Sementara kredit produktif yang diwakili kredit modal kerja dan investasi berkontribusi mencapai 54,56 persen terhadap total pembiayaan.

Pertumbuhan kinerja pembiayaan melalui Bank Syariah di Jatim menunjukkan kenaikan cukup baik jika dibandingkan  periode sebelumnya.  Data menyebutkan, pembiayaan yang disalurkan pada periode laporan mencapai Rp 18,42 triliun, atau tumbuh 33,43 persen. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang hanya 24,62 persen.

“Dari sisi risiko pembiayaan yang tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF), menunjukan perbaikan menjadi 3,35 persen dari triwulan sebelumnya yang tercatat 3,74 persen,” ujarnya. Selain itu, proporsi pembiayaan produktif di Bank Syariah di Jatim menunjukkan pola masyarakat yang mulai mempercayai perbankan syariah sebagai mitra bisnis.

Selain pertumbuhan cepat di sektor perbankan syariah, kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jatim sepanjang triwulan II, secara umum juga menunjukkan pertumbuhan, meski sedikit melambat dibanding periode.

Data BI menyebutkan, total aset BPR pada Triwulan kedua hanya tumbuh sebesar 2,98 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 6,78 persen.

“Minimnya pertumbuhan aset ini merupakan imbas dari penurunan pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang hanya tumbuh sebesar 11,45 persen  (yoy) pada periode laporan, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 12,69 persen,” tutupnya. (wh)